LANGIT7.ID-Terkadang cinta tak sanggup lagi disimpan dalam dada. Ia meluap seperti air bah yang menerjang bendungan-bendungan kesadaran. Maka, sebagian sufi yang tenggelam dalam ekstase menyayat kulitnya sendiri. Menjerit. Merobek baju. Menangis. Berdiri. Dan jatuh. Satu per satu lapisan dunia tercampak, hingga yang tertinggal hanyalah ruh yang menari di antara dua langit: cinta dan penghilangan diri.
Apakah itu penghambaan atau justru kemunafikan?
Di sejumlah majelis sama’ yang dihadiri para sufi, pernah terjadi seseorang—seorang murid muda—menjerit begitu keras karena tak sanggup menahan gelombang emosi spiritual yang mengguncangnya. Darah menyembur. Tubuhnya terguncang. Jiwanya seperti dicabut dari bumi. Melihat itu, Syaikh Junaid al-Baghdadi, sufi agung dari Baghdad, mengucapkan satu kalimat yang tajam namun mendidik:
“Jika kaulakukan hal itu sekali lagi, jangan tinggal bersamaku.”
Tegas dan keras. Tapi bukan karena dingin. Ia sedang mengajarkan bahwa cinta yang benar tidak kehilangan kendali. Karena jiwa yang benar-benar suci, adalah jiwa yang mampu menahan badai.
Baca juga: Kesempurnaan Tobat dan Kontinuitasnya Menurut Imam Ghazali Dan benar saja, si pemuda tak mengulangi pekikan itu. Ia berusaha menahan diri selama bertahun-tahun. Hingga suatu malam, cinta dalam dadanya meluap sekali lagi. Kali ini, ia menjerit bukan karena lemah, tapi karena telah selesai menahan. Jeritannya yang terakhir itu, adalah jeritan ruh yang kembali—dan ia wafat dalam ekstase.
Pertunjukan yang Tak Boleh Jadi TontonanImam Al-Ghazali, dalam
Kimia Kebahagiaan, mengingatkan bahwa majelis seperti itu bukan untuk semua orang. Hanya mereka yang hadir dengan niat suci dan pikiran tertuju kepada Allah yang boleh ikut. Bahkan dalam lingkaran dzikir sekalipun, para peserta diminta menundukkan pandangan, tidak saling menatap, tidak membuat gerakan berdasarkan kesadaran ego, apalagi untuk pamer.
Jika ekstase murni memang datang, dan satu orang berdiri karena tak kuat menahan cinta, maka semua yang hadir harus ikut berdiri bersamanya—bukan sebagai reaksi, tapi sebagai penghormatan ruhani. Jika sorbannya lepas, maka sorban kita pun harus dilepas.
Ekstase seperti itu bukan untuk pertunjukan, bukan untuk video viral, dan tentu bukan untuk publik awam yang datang sekadar ingin tahu. Sebab ketika cinta dibuka untuk pasar, yang muncul hanyalah keramaian tanpa roh.
Baca juga: Imam Ghazali: Puasa Tak Cukup Hanya Menahan Lapar, Dahaga, dan Hubungan Suami Istri Bid'ah atau Fitrah?Memang benar, kata Al-Ghazali, bahwa praktik-praktik seperti ini tidak dikenal pada masa para sahabat. Tapi itu tak berarti ia otomatis terlarang. Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali yang jelas bertentangan dengan syariat. Sama seperti shalat Tarawih berjamaah yang tidak rutin dilakukan Nabi, tapi kemudian dilembagakan oleh Umar bin Khattab demi maslahat umat.
Bahkan Nabi pernah bersabda: “Hiduplah bersama setiap orang sesuai dengan kebiasaan dan wataknya.”
Di sebagian daerah, berdiri untuk menghormati guru atau pemimpin dianggap wajib sopan santun. Maka, enggan melakukannya justru bisa melukai. Di sini, Islam mengajarkan kompromi yang lembut—tanpa menyalahi prinsip.
Nada Terakhir: Ketika Tubuh Bicara CintaAda garis tipis antara spiritualitas dan teatrikalitas. Antara ekstase sejati dan sandiwara emosi. Maka, hanya yang telah melewati tempaan panjang, penyucian batin, dan bimbingan mursyid yang layak menari bersama langit.
“Bukan karena mereka gila,” kata seorang mursyid tua, “tapi karena mereka telah sadar, dan kita yang masih tertidur.”
Baca juga: 3 Unsur Tobat Menurut Imam Ghazali: Ilmu, Hal, dan Amal Mereka yang menari dalam lingkaran zikir itu—jika benar—sedang menari di dalam Allah. Tapi mereka yang menari demi tepuk tangan, sedang menari di atas panggung ego.
Dan kita, yang menonton dari kejauhan, seharusnya tidak terburu-buru menghakimi. Karena cinta—dalam bentuk apapun—selalu butuh kedalaman, bukan sekadar pengetahuan.
(mif)