Di kalangan sufi, pengalaman Bayazid itu dikenal sebagai fanasirnanya keakuan di hadapan Yang Mutlak. Tetapi jalan menuju fana, bagi Bayazid, bukan sekadar shalat panjang atau puasa panjang.
Akan tetapi bagi banyak orang, pengakuan itu berhenti di bibir. Dalam hati, perasaan itu jarang benar-benar bangkit. Bahkan, banyak yang lebih bergairah mengejar dunia ketimbang rindu menatap Sang Pencipta.
Syibli bertanya, Dari siapa Anda belajar tenang seperti itu? Tsauri menjawab, Dari seekor kucing yang saya lihat menunggu di lubang tikus dengan kesabaran yang bahkan lebih daripada saya.
Kehidupan bukan sekadar lalu lintas duniawi, melainkan sebuah perjalanan rohaniah, di mana setiap tarikan napas dan detik memiliki harga yang tak ternilai.
Di era kini, introspeksi, atau muhasabah, terasa semakin asing. Orang-orang dengan mudah menghitung untung-rugi di pasar saham, tapi gagal menghitung berapa banyak dusta yang mereka ucapkan hari ini.
Bagi dunia tasawuf, tarian dan musik bukan sekadar seni hiburan. Ia adalah bahasa lain dari jiwamedium yang membangkitkan cinta, rasa syukur, ketakjuban, dan kadang, kehancuran ego.
Musik dan tarian, dalam tafsir Al-Ghazali, adalah bagian dari ikhtiar batin untuk merasakan Tuhan dengan cara yang paling manusiawi: rindu, tangis, gemetar, dan gembira.
Ia berpihak pada pembuktian spiritual bahwa jiwa manusia tetap eksis setelah tubuh terurai. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad: Kematian adalah jembatan yang menyatukan sahabat dengan sahabat.
Neraka itu, kata Imam Al-Ghazali, bukanlah liang dipenuhi ular dan bara, melainkan kekecewaan jiwa. Surga bukanlah istana berpilar mutiara, tapi kebeningan rohani.
Penyakit, dalam pandangan ini, bukan sekadar persoalan ketidakseimbangan unsur tubuh. Ia bisa menjadi surat cinta dari Tuhan, tali gaib yang menarik sang hamba kembali ke jalan-Nya.
Beberapa orang yang berpikiran sederhana telah memeriksa kuburan orang-orang kafir ini dan bertanya-tanya mengapa mereka tak bisa melihat ular-ular ini.