Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Audit Sehari 21.600 Kali: Kala Wali Itu Roboh Setelah Menghitung Dosa

miftah yusufpati Ahad, 06 Juli 2025 - 04:15 WIB
Audit Sehari 21.600 Kali: Kala Wali Itu Roboh Setelah Menghitung Dosa
Cerita wali yang mati setelah menghitung dosanya itu adalah cermin: mungkin tak seorang pun dari kita berani menghitung hari dan dosa kita sendiri. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu malam, wali tua itu duduk di sudut rumahnya yang sederhana. Ia menghitung pelan-pelan umur yang telah ia lalui, hari demi hari, hingga berhenti di angka 21.600. “Celaka aku,” katanya lirih, “jika setiap hari aku berdosa satu saja, bagaimana aku akan sanggup melarikan diri dari tumpukan dosa sebanyak itu?” Ia lalu tersungkur ke tanah, memekik. Dan ketika orang-orang datang menghampiri, ia sudah tiada.

Cerita itu, yang diabadikan Imam Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan, lebih dari sekadar kisah tentang kematian seorang wali. Ia adalah sebuah sindiran telak pada watak manusia yang lalai: lupa memeriksa dirinya sendiri, lupa menghitung hutang-hutang ruhani yang mereka tanggung, lupa bahwa modal paling penting dalam hidup bukanlah angka-angka di buku tabungan, melainkan catatan amal di hati.

Dalam dunia modern yang serba cepat dan penuh gangguan ini, introspeksi, atau muhasabah, terasa semakin asing. Orang-orang dengan mudah menghitung untung-rugi di pasar saham, tapi gagal menghitung berapa banyak dusta yang mereka ucapkan hari ini. Mereka bangga menuntaskan seribu biji tasbih, tapi tidak pernah menghitung ribuan kata sia-sia yang meluncur dari bibir.

Di abad ke-11, Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang setiap malam memukul-mukul kakinya sambil bertanya, “Apa yang telah kau lakukan hari ini?” Abu Thalhah pernah kehilangan konsentrasi dalam shalat hanya karena burung indah melintas, lalu menghukum dirinya dengan menyerahkan seluruh kebun kurmanya kepada orang lain. Para wali sadar bahwa hati ini seperti rekan dagang yang licik — jika tidak diawasi, ia akan menipu dalam bentuk yang paling halus: menyamarkan cinta dunia sebagai ketaatan kepada Tuhan.

Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali

Namun, di balik itu semua, manusia seringkali malas mendisiplinkan diri. Jika tidak bisa, kata seorang wali, “maka carilah orang yang bisa menjadi teladan bagi dirimu.” Ada orang yang hanya dengan memandang Muhammad ibn Wasi, semangatnya untuk berdisiplin bisa terjaga selama seminggu. Jika teladan pun tak ditemukan, maka belajar dari kisah para wali adalah pilihan terakhir — membaca hidup mereka adalah cara memaksa diri untuk tetap waras di tengah rayuan dunia.

Al-Ghazali menuliskan sebuah teguran yang pahit: “Wahai jiwaku, kau pintar menyiapkan pakaian untuk melawan musim dingin, tapi tak pernah bersiap untuk menghadapi akhirat.” Seakan-akan, katanya, seseorang berkata di tengah badai: “Saya percaya pada rahmat Tuhan, jadi tak perlu pakai mantel.” Ia lupa bahwa rahmat itu juga hadir dalam bentuk petunjuk dan kain wol yang dianugerahkan.

Kecintaan yang berlebihan pada dunia, lanjutnya, adalah kebutaan paling memalukan. Jika seluruh dunia tunduk padamu, semua akan berubah jadi debu juga. Lalu kenapa kau begitu mudah menukar kebahagiaan abadi dengan debu yang hina? Kenapa memilih gelas retak dari lempung, lalu menertawakan orang yang mengejar permata?

Cerita wali yang mati setelah menghitung dosanya itu adalah cermin: mungkin tak seorang pun dari kita berani menghitung hari dan dosa kita sendiri. Mungkin kita bahkan takut melihat rumah kosong itu penuh batu hitam. Tetapi, sebagaimana kata Khalifah Umar: timbanglah kata-kata dan perbuatanmu sebelum semuanya ditimbang.

Karena jika tidak sekarang, kapan lagi kita belajar dari kisah para wali itu — sebelum nama kita sendiri hanyut dalam debu, bersama raja-raja dan pedagang-pedagang yang pernah juga berpikir mereka abadi.

Baca juga: Ekstase, Luka, dan Sunyi Para Pencinta Ajaran Imam Al-Ghazali

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)