LANGIT7.ID-Di dalam perjalanan para pencari Tuhan, zikrullah—mengingat Allah—bukan sekadar melafalkan nama-Nya. Ia adalah keadaan hati, tingkah laku, bahkan nafas. Dalam
Kimia Kebahagiaan karya
Imam Al-Ghazali, dua tingkatan zikir dijelaskan dengan kisah-kisah yang menggetarkan, yang tak hanya memberi pelajaran tentang bagaimana mengingat-Nya, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang benar-benar hadir di hadapan-Nya.
Tingkatan pertama adalah tingkatan para wali. Di tingkat ini, pikiran-pikiran manusia terserap seluruhnya pada perenungan dan keagungan Allah, sehingga tak ada lagi ruang di hati mereka untuk hal-hal selain-Nya. Bahkan perkara-perkara halal pun mereka jauhi, seolah-olah mereka tak lagi butuh pengingat atau penjaga untuk menjauhkan diri dari dosa. Nabi Muhammad pernah berkata tentang keadaan ini: “Orang yang bangun di pagi hari hanya dengan Allah di dalam pikirannya maka Allah akan menjaganya di dunia ini maupun di akhirat.”
Dalam keadaan ini, para wali bisa tampak asing bagi manusia lain. Beberapa di antaranya larut begitu dalam hingga tak mendengar orang yang berbicara pada mereka, tak melihat orang yang berjalan di depan mereka, bahkan terhuyung-huyung seolah menabrak dinding.
Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali Al-Ghazali mengutip sebuah riwayat: seorang wali melewati tempat orang-orang berlomba memanah, lalu melihat seseorang duduk sendirian. Ketika diajak berbicara, orang itu hanya menjawab, “Mengingat Allah lebih baik daripada bercakap.”
Ketika ditanya apakah ia tak kesepian, ia menjawab, “Tidak, Allah dan dua malaikat bersama saya.” Saat ditanya siapa yang memenangkan lomba, ia berkata singkat, “Orang yang telah ditakdirkan Allah untuk menang.” Dan ketika ditanya dari mana jalan ini datang, ia hanya memandang langit dan berbisik, “Ya Rabbi, banyak makhluk-Mu menghalang-halangi orang dari mengingat-Mu,” lalu pergi.
Ada pula kisah Wali Syibli yang mengunjungi sufi Tsauri. Ia mendapati Tsauri duduk diam dalam tafakur, bahkan sehelai rambut pun tak bergerak. Syibli bertanya, “Dari siapa Anda belajar tenang seperti itu?” Tsauri menjawab, “Dari seekor kucing yang saya lihat menunggu di lubang tikus dengan kesabaran yang bahkan lebih daripada saya.”
Begitu juga kisah Ibnu Hanif, yang menyaksikan seorang syaikh dan muridnya duduk larut dalam dzikrullah di kota Sur, tak menghiraukan salam dan pertanyaan, hanya menunduk, diam, dan menatap Makkah. Ketika akhirnya ditanya untuk memberikan nasihat, si murid berkata, “Pergilah dan carilah seseorang yang dengan mengunjunginya akan membuat Anda mengingat Allah, menanamkan rasa takut akan Dia dalam hati Anda, dan memberi nasihat melalui diamnya, bukan lewat kata-katanya.”
Baca juga: Ekstase, Luka, dan Sunyi Para Pencinta Ajaran Imam Al-Ghazali Golongan KananTingkatan kedua adalah dzikirnya “golongan kanan” (
ashabul-yamin). Mereka tetap mengingat Allah dan sadar bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang mereka, tetapi mereka tidak sampai larut kehilangan kesadaran diri. Mereka seperti seseorang yang tiba-tiba sadar dirinya telanjang lalu buru-buru menutup diri karena malu, atau seperti orang yang mendadak berdiri di hadapan raja lalu gugup namun tetap berusaha menjaga sikap.
Orang-orang di tingkatan kedua ini memeriksa dengan cermat semua lintasan pikiran mereka. Sebab, di hari akhir, tiga pertanyaan akan diajukan tentang setiap perbuatan: mengapa engkau melakukannya; bagaimana engkau melakukannya; dan untuk siapa engkau melakukannya.
Pertanyaan pertama menguji apakah dorongan berbuat berasal dari Allah atau hanya dari hawa nafsu. Pertanyaan kedua menyelidiki apakah pekerjaan dilakukan dengan cara bijak atau ceroboh. Dan yang ketiga memastikan apakah pekerjaan itu diniatkan demi mencari ridha Allah atau demi pujian manusia. Siapa yang mampu menjawab ketiganya dengan baik, dialah yang selamat.
Al-Ghazali memperingatkan bahwa membedakan lintasan-lintasan hati itu sulit. Karena itu seseorang dianjurkan mencari pengarah ruhani yang bisa menerangi hatinya. Sebaliknya, ia mesti menghindari para terpelajar duniawi yang disebut sebagai agen setan. Dalam riwayat disebutkan, Allah pernah berfirman kepada Nabi Daud, “Jangan bertanya tentang orang-orang terpelajar yang teracuni oleh cinta dunia, karena mereka akan merampok kecintaan-Ku darimu.”
Baca juga: Bukan Seruling Setan: Membaca Ulang Musik dan Tarian dalam Laku Sufi Imam Al-Ghazali Nabi Muhammad sendiri bersabda, “Allah mencintai orang yang cermat dalam meneliti soal-soal yang meragukan dan yang tidak membiarkan akalnya dikuasai oleh nafsunya.”
Dzikir, pada akhirnya, bukan hanya soal melafalkan. Di tingkatan tertinggi ia adalah keadaan hati yang sepenuhnya hanyut kepada-Nya, hingga lupa kepada diri sendiri. Di tingkatan kedua ia adalah pengendalian diri di bawah pandangan-Nya, antara malu, takut, dan cinta.
Di antara keduanya, manusia belajar satu hal: bahwa di hadapan Allah, tak ada ruang untuk bersandiwara.
(mif)