LANGIT7.ID-Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, ketika penyakit dikalkulasi secara kimiawi dan depresi dipetakan oleh peta-peta hormon, ada suara sunyi yang datang dari abad ke-11. Suara itu adalah suara Hujjatul Islam,
Imam al-Ghazali. Ia mengingatkan kita akan satu hal yang kini mulai dilupakan: bahwa ada cinta di balik derita, ada kehendak Ilahi di balik tiap gejala.
Dalam penggalan emas dari karyanya "
The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan oleh Haidar Bagir menjadi "
Kimia Kebahagiaan", al-Ghazali mengajak kita mengurai kesalahan para pengamat dunia: para ilmuwan, tabib, bahkan para pemuja astrologi.
Mereka memang melihat, namun tak mengenali. Seperti para buta yang meraba seekor gajah—satu menyentuh kaki, satu menyentuh gading, dan yang lain memegang telinga. Masing-masing menyimpulkan keseluruhan dari sepotong kenyataan. Begitulah, menurut al-Ghazali, orang-orang yang hanya mengandalkan fakultas perseptif lahiriah mereka dalam memahami dunia.
Penyakit, dalam pandangan ini, bukan sekadar persoalan ketidakseimbangan unsur tubuh. Ia bisa menjadi surat cinta dari Tuhan, tali gaib yang menarik sang hamba kembali ke jalan-Nya. Dokter boleh meresepkan obat, astrolog boleh menuduh konstelasi langit, tapi yang tidak mereka lihat adalah hikmah di balik semua itu: “Bahwa Yang Maha Kuasa berkehendak mengurus kesejahteraan orang itu.”
Baca juga: Cermin Diri, Cermin Tuhan: Renungan Sufi dari Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali Ilmu, Iman, dan Kebutaan SpiritualNamun al-Ghazali tak hendak merendahkan ilmu. Ia memuliakan tiap cabangnya. Yang ia kritik adalah ketika hukum-hukum fisika dianggap sebagai hukum akhir dari semesta, seolah tidak ada Sang Penetap hukum di atasnya. Ketika ilmu melupakan bahwa ia hanyalah tanda, bukan tujuan. Maka, ilmu yang tercerabut dari wahyu hanyalah rangka yang kehilangan roh.
Dalam nada getir tapi penuh cinta, al-Ghazali menyingkap jenis-jenis kebutaan spiritual yang menimpa manusia. Ada yang menolak keberadaan Tuhan karena tak menemukannya dalam eksperimen. Ada yang menolak akhirat karena mengira dirinya tak lebih dari sayur dan hewan yang akan binasa.
Ada yang menyebut syariah mustahil karena menyuruh manusia mengendalikan nafsu. Dan yang lebih menyedihkan: mereka yang menyalahgunakan mistisisme, menyangka diri suci hingga merasa boleh melanggar syariat.
Kepada mereka yang mengaku sudah 'sampai', al-Ghazali berpesan: bahkan Nabi pun menangis karena sebutir kurma yang tak jelas asalnya. Maka siapa kalian yang minum anggur dan berkata sudah melewati batas halal-haram?
Baca juga: Orang-Orang Kafir setelah Mati Akan Disiksa 99 Ular, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali Menyelam ke Dalam ZikirUcapan-ucapan di bibir seorang mukmin, seperti subhanallah, alhamdulillah, dan allahu akbar, bukanlah dekorasi bahasa. Ia adalah peta menuju samudra makna. Ketika kita mengatakan Allahu Akbar, itu bukanlah perbandingan ukuran dengan dunia, tetapi pengakuan bahwa Allah melampaui batas pemahaman kita. Bahwa ilmu kita adalah debu, dan hikmah-Nya adalah langit tanpa batas.
Namun bukan berarti manusia lalu berhenti. Sebaliknya, cinta adalah motor dari perjalanan. Dan cinta kepada Allah, kata al-Ghazali, hanya tumbuh lewat ibadah dan zikir yang konsisten. Zikir bukanlah pelarian, tapi jalan pulang. Ia bukan untuk mematikan nafsu, tapi menempatkannya dalam kendali. Seperti sungai yang dibendung agar mengairi sawah, bukan membanjiri desa.
Syariat: Bukan Belenggu, Tapi Jalan TerangDi ujung renungan panjang ini, al-Ghazali mengingatkan: syariat bukanlah batas yang mengekang, melainkan pagar yang menyelamatkan. Jika manusia ingin bahagia, mereka harus tunduk pada batas-batas itu, sebagaimana pasien yang ingin sembuh harus mengikuti nasihat dokter.
Jangan seperti orang yang berkata, “Allah Maha Pengampun,” tapi tetap menyakiti diri sendiri dengan dosa. Seakan ia lupa bahwa meski Allah Maha Pemaaf, dunia tetap diatur oleh hukum sebab-akibat.
Baca juga: Penjelasan Imam al-Ghazali tentang Hal-Hal yang Baik Itu Abadi Bagi mereka yang terlalu percaya pada kemurahan Tuhan tanpa berusaha, al-Ghazali menyebutnya telah berbicara dengan lidah setan. Karena keadilan Tuhan tak pernah bisa dikhianati oleh manipulasi retorika.
Kebahagiaan, kata al-Ghazali, bukan terletak pada tawa dunia. Tapi pada hati yang bersih. “Yang akan diselamatkan hanyalah yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih,” kutipnya dari al-Qur'an. Maka, semua penyakit, ujian, bahkan kehinaan, bisa jadi alat pemurni jiwa—selama hati tetap melihatnya sebagai tanda cinta.
Bagi orang yang belum bisa melihat, ia sarankan zikir dan ibadah. Bagi yang telah melihat, ia perintahkan kerendahan hati. Dan bagi yang takjub namun lupa kepada siapa ia takjub, al-Ghazali menyuruh mereka mengingat bahwa semua keindahan berasal dari satu Sumber: Yang Maha Kuasa.
(mif)