LANGIT7.ID-Dalam kehidupan ini,
mukjizat adalah tanda kuasa Allah yang diberikan kepada para nabi atau peristiwa luar biasa yang menunjukkan kebenaran suatu ajaran. Salah satu mukjizat yang jarang terjadi adalah seorang
bayi berbicara saat masih dalam buaian.
Dalam
hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim,
Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa hanya ada tiga bayi yang pernah berbicara dalam buaian mereka. Ketiga kisah ini sarat dengan hikmah yang mendalam, membimbing umat manusia untuk memahami keadilan, kasih sayang, dan keteguhan iman.
1. Isa Putra MaryamBayi pertama yang berbicara adalah
Nabi Isa 'alaihissalam, yang lahir tanpa ayah dari seorang wanita suci, Maryam. Saat kaumnya menuduh Maryam telah melakukan perbuatan keji, bayi Isa—yang saat itu masih dalam gendongan—berbicara dengan fasih untuk membela ibunya dan menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan Allah. "
Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang nabi." (QS. Maryam: 30)
Kisah ini menunjukkan bahwa Allah dapat menunjukkan kebenaran dan membela kehormatan hamba-Nya melalui cara yang tidak biasa, bahkan lewat suara seorang bayi.
Baca juga: Mukjizat yang Tak Terlihat: Kisah Qur’an, Iman, dan Hati yang Terbuka 2. Bayi dalam Kisah JuraijBayi kedua muncul dalam kisah Juraij, seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang hidup zuhud dan menetap di dalam sebuah tempat ibadah. Suatu hari, ibunya memanggil saat ia sedang salat. Juraij bingung memilih antara menjawab ibunya atau melanjutkan ibadahnya, dan ia memilih melanjutkan salatnya. Ibunya pun marah dan berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau matikan dia sebelum ia melihat wajah wanita pezina.”
Doa itu dikabulkan. Seorang wanita pezina kemudian menuduh Juraij sebagai ayah dari anak yang dilahirkannya. Masyarakat langsung menghancurkan tempat ibadah Juraij dan memukulinya. Juraij, dengan tenang, meminta untuk salat terlebih dahulu. Setelah selesai, ia mendekati bayi tersebut dan bertanya, “Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Ayahku adalah si fulan, seorang penggembala.”
Baca juga: Penafsiran Ilmiah Al-Quran: Ketika Umat Islam Berusaha Membuktikan Mukjizat Al-Quran Kisah ini terdapat dalam hadis sahih: “
Tidak pernah ada seorang pun yang berbicara dalam buaian kecuali tiga: Isa putra Maryam, bayi dalam kisah Juraij, dan seorang bayi yang sedang menyusu…” (HR. Bukhari dan Muslim; lihat juga Abu Ishaq al-Huwaini, IslamHouse.com, 2013)
Masyarakat akhirnya sadar telah berbuat salah dan menawarkan membangun tempat ibadah dari emas, namun Juraij menolaknya dan meminta hanya dibangun kembali dari tanah seperti semula.
3. Bayi dan Budak PerempuanBayi ketiga adalah seorang anak yang sedang menyusu ketika ibunya mendoakan agar ia menjadi seperti seorang bangsawan yang tampak terhormat. Bayi itu justru melepaskan susu dan berkata, “Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.”
Lalu mereka melewati seorang budak perempuan yang sedang dipukuli karena dituduh mencuri dan berzina. Ibunya pun berdoa, “Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti perempuan itu.” Namun bayi itu kembali melepaskan susu dan berkata, “Ya Allah, jadikan aku seperti dia.”
Ibunya bingung dan bertanya, “Mengapa kamu berkata demikian?” Bayi itu menjawab, “Yang pertama adalah seorang yang sombong, sedangkan yang kedua dituduh berzina dan mencuri padahal ia tidak melakukannya.”
Baca juga: Kisah Dedengkot Munafik Mempertanyakan Mukjizat Rasulullah SAW Hikmah yang Bisa DiambilKisah ini mengandung banyak pelajaran:
- Ketaatan kepada orang tua harus disertai kebijaksanaan; ibadah tidak boleh mengabaikan hak sesama.
- Kesabaran dan keikhlasan akan dibela oleh Allah, bahkan jika kebenaran harus disuarakan oleh bayi.
- Jangan tertipu oleh penampilan, karena kehormatan di mata Allah tidak ditentukan oleh status sosial.
- Doa seorang ibu sangat mustajab, maka harus berhati-hati dalam melafalkannya.
Tiga bayi yang berbicara dalam buaian bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi pelajaran hidup yang sangat dalam. Mereka menjadi simbol keadilan ilahi, kebijaksanaan dalam bertindak, dan keberpihakan Allah kepada orang yang terzalimi. Dalam dunia yang sering kali tertipu oleh penampilan luar, kisah ini mengingatkan kita untuk melihat lebih dalam—dengan iman dan hati yang jernih.
“Cukuplah Allah sebagai penolongku, dan Dia adalah sebaik-baik penolong.” (HR. Bukhari dan Muslim)
(mif)