home wisata halal

Italia, Onti dan Swiss

Rabu, 21 Agustus 2024 - 15:11 WIB
Italia, Onti dan Swiss
LANGIT7.ID-Italia; Stasiun Verona-Italia, Sabtu 3 Agustus 2024. Kami menunggu dengan tenang datangnya kereta lanjutan di Peron-8 sebagaimana tertulis di display. Kereta ini akan membawa kami menuju Stasiun Milan. Dua koper besar, dua koper sedang, dan beberapa tas tentengan dalam posisi aman. Bagasi-bagasi ini membutuhkan kekuatan ekstra. Untungnya Ridwan menantuku kuat walaupun kurus dan tinggi dibanding aku yang gemuk dan pendek. Sepanjang perjalanan dari Venesia ke Verona menantuku dan anakku asik ngobrol dengan Mister dan Madam Kristian orang Perancis. Dua pensiunan ini dalam perjalanan bersepeda ke beberapa kawasan di Itali. Sebagai sesama orang ramah aku juga sempat mengobrol dengan mereka. Mereka lalu pindah peron. Lalu Ridwan menyusul keluar untuk suatu keperluan. Tetapi suasana Peron-8 ini terasa tidak lazim. Sepi-sepi saja.

Tiba-tiba Ridwan kembali dengan tergopoh-gopoh. Dia baru saja mendapat informasi kereta yang menuju Milan ternyata pindah ke Peron-4. Maka Drama Korea kembali terjadi. Kami harus bergeser peron dan waktu tinggal lima menit. Padahal mencapai Peron-4 dari Peron-8 harus turun dulu ke terowongan, berjalan beberapa puluh meter, lalu naik ke peron-4. Maka kami harus berlari turun dan naik tangga. Tentu dengan empat koper, satu anak kelas satu SD, dan satu ibu hamil tujuh bulan. Allaahu akbar. Maka dua barang tentengan sempat tercecer. Di ujung drama kami berhasil masuk kereta. Segera setelah koper terakhir kami masuk gerbong kereta perlahan bergerak menuju Milan. Di dalam kereta ternyata sudah ada Mister dan Madam Kristian sahabat baru kami. Mereka ikut membantu sebisanya dan terlihat bahagia setelah semuanya beres. Alhamdu lillaah.



Dua jam kurang delapan menit kereta api kami masuk Milano Centrale, stasiun pusat Milan. Milan adalah kota metropolitan. Dua klub sepakbola besar bermarkas disini AC Milan dan Inter Milan. Beberapa pemain bintang era 1980-an berkarir disini. Salah satunya Reberto Mancini yang kini menjadi pelatih Timnas Saudi Arabia. Tahu bahwa aku sedang berada di Milan Adde Marup sahabat dekatku sesama pemain bola dan striker UMY mengirim pesan WA dari Jogja. “Jangan lupa oleh-oleh. Tapi jangan hanya gantungan kunci. Kalau ada kaos ukuran-M.” Maka aku melirik beberapa toko di dalam stasiun. Sayang tidak ada toko kaos di stasiun raksasa dengan dua puluh peron ini. Sepuluh menit menjelang berangkat nomor peron kami pun keluar di display. Kamipun segera masuk kereta menuju negara ketiga perjalanan di Eropa kali ini: Switzerland alias Swiss.

Dengan kereta api SSB-Swiss kami meninggalkan Stasiun Milan. Para penumpang kebanyakan bule dan berbicara dalam Bahasa Jerman atau Italia yang aku tidak faham. Kami duduk di bagian tengah dan di ujung gerbong terlihat dua keluarga dari Afrika. Mereka berbahasa Arab dan para wanitanya tidak berjilbab. Mungkin dari Sudan Selatan. Di Eropa aku sering bertemu rombogan seperti ini. Ciri khasnya anak-anak mereka selalu ramai. Kebalikan dengan anak-anak kulit putih yang tertib dan tenang. Tetapi kali ini enam anak keturunan Afrika usia TK atau SD itu luar biasa ribut. Lalu tiba-tiba salah satu ibu mereka mendatangi tempat duduk kami. Dengan bahasa tubuh dia meminta anak, menantu, dan cucuku pindah dari tempat duduk kami. Dia juga tidak bisa menunjukkan tiket. Tentu permintaanya ditolak. Sang Ibu akhirnya diseret anak-anaknya yang masih SD. Ada-ada saja.

Perjalanan menuju utara melalui pegunungan Alven, tulang punggung Eropa. Jalur kereta apinya meliuk-liuk di sela gunung, terowongan, dan lembah hijau. Pemandangan indah terhampar sepanjang perjalanan. Beberapa danau menampakkan diri begitu anggun. Di arah yang jauh puncak-puncak gunung menjulang tinggi. Mirip dengan jalur menuju Dieng melalui Wonosobo dengan tujuh gunungnya. Atau dataran tinggi Kerinci dan Sumatera Barat dengan beberapa danaunya. Tetapi tanpa puncak bersalju. Meski Gunung Kerinci (3805 DPL) lebih tinggi dari puncak Jungfraujoch puncak tertinggi di Swiss (3.454 DPL). Bentang alam Swiss ini mirip Norwegia yang kami tinggalkan tiga hari sebelumnya. Danau-danau Swiss seakan fjord-fjord Norwegia yang mengundang rasa takjub. Bedanya danau di Swiss berair tawar. Sedangkan fjord Norwegia berair asin.

Swiss memang negeri idaman. Ia negeri indah yang berada di ketinggian dataran tinggi di Eropa. Negeri dengan banyak gunung berpuncak salju ini dikepung empat negara: Italia di selatan, Perancis di barat, Jerman di utara, dan Austria di timur. Untuk masuk ke Swiss orang harus melalui negara lain. Karena dari selatan maka kami masuk melalui Italia. Segera setelah masuk wilayah Swiss keindahan segera memanjakan mata. Negeri ini nampak leboih rapi, bersih, dan makmur dibanding Italia. Maka wajar bila negeri ini menjadi impian para pengunjung. Dalam hal ini anak bungsu kami lebih beruntung. Dia lebih dahulu menjelajah Swiss. Dia bahkan mendahului kakaknya yang kuliah di Eropa. Apalagi kami ayah dan ibunya. Si Bungsu kami yang memiliki nama panggilan Onti ini sudah sampai di Swiss tujuh tahun yang lalu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya