home global news

Boikot Meluas, Coca-Cola dan Pepsi Terancam di Timur Tengah!

Kamis, 05 September 2024 - 05:15 WIB
Boikot Meluas, Coca-Cola dan Pepsi Terancam di Timur Tengah!
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Coca-Cola dan PepsiCo telah menghabiskan ratusan juta dolar selama puluhan tahun untuk membangun permintaan minuman ringan mereka di negara-negara mayoritas Muslim seperti Mesir hingga Pakistan. Sekarang, keduanya menghadapi tantangan dari soda lokal di negara-negara tersebut karena boikot konsumen yang menganggap merek global itu sebagai simbol Amerika, dan karena itu, Israel, di tengah perang di Gaza.

Di Mesir, penjualan Coke turun drastis tahun ini, sementara merek lokal V7 mengekspor tiga kali lebih banyak botol cola di Timur Tengah dan wilayah lain dibandingkan tahun lalu. Di Bangladesh, protes publik memaksa Coca-Cola membatalkan kampanye iklannya melawan boikot. Di seluruh Timur Tengah, pertumbuhan cepat Pepsi berhenti sejak perang Gaza dimulai pada bulan Oktober.

Eksekutif perusahaan Pakistan, Sunbal Hassan, tidak menyajikan Coke dan Pepsi di pesta pernikahannya di Karachi pada bulan April. Dia mengatakan dia tidak ingin uangnya masuk ke kas pajak Amerika Serikat, yang merupakan sekutu utama Israel.

“Dengan melakukan boikot, kita bisa berperan dengan tidak berkontribusi pada dana tersebut,” kata Hassan. Sebagai gantinya, dia menyajikan minuman merek lokal Pakistan, Cola Next, kepada para tamunya.

Dia tidak sendirian. Meskipun sulit menentukan angka kerugian penjualan secara pasti, dan PepsiCo serta Coca-Cola masih memiliki bisnis yang berkembang di beberapa negara Timur Tengah, merek-merek minuman ringan Barat mengalami penurunan penjualan sebesar 7 persen pada paruh pertama tahun ini di seluruh wilayah tersebut, menurut peneliti pasar NielsenIQ.

Di Pakistan, Krave Mart, sebuah aplikasi pengiriman terkemuka, melihat pesaing lokal seperti Cola Next dan Pakola meningkat popularitasnya hingga mencapai sekitar 12 persen dari kategori minuman ringan, kata pendiri Kassim Shroff kepada Reuters bulan ini. Sebelum boikot, angka tersebut hanya sekitar 2,5 persen. Shroff mengatakan bahwa sebelum boikot, Pakola, yang memiliki rasa soda es krim, adalah pembelian terbanyak. Dia menolak memberikan angka penjualan untuk Coca-Cola dan PepsiCo.

Boikot konsumen telah ada sejak abad ke-18, seperti protes anti-perbudakan terhadap gula di Inggris. Strategi ini digunakan di abad ke-20 untuk melawan apartheid di Afrika Selatan dan telah digunakan secara luas terhadap Israel melalui gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya