Krisis Ekonomi dan Perang Gaza Warnai Pemungutan Suara di Yordania
Nabil
Selasa, 10 September 2024 - 05:00 WIB
Krisis Ekonomi dan Perang Gaza Warnai Pemungutan Suara di Yordania
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Rakyat Yordania akan menggunakan hak pilih mereka pada hari Selasa untuk memilih parlemen baru. Pemilihan ini berlangsung di tengah keprihatinan luas atas perekonomian yang lesu dan perang yang sedang berlangsung di Gaza.
Hanya dua hari menjelang pemungutan suara, sebuah insiden kekerasan langka terjadi. Seorang warga Yordania menewaskan tiga penjaga keamanan Israel di perbatasan antara Yordania dan Tepi Barat yang diduduki.
Pemilu kali ini, yang diadakan setiap empat tahun sekali, merupakan yang pertama di bawah undang-undang baru yang disahkan pada Januari 2022. UU tersebut menambah jumlah kursi di parlemen, menyediakan lebih banyak kursi untuk perempuan, dan menurunkan batas usia minimal untuk calon anggota parlemen.
Para calon yang bertarung dalam pemilu ini termasuk perwakilan suku-suku besar Yordania, kelompok tengah, dan pendukung pemerintah. Selain itu, ada juga calon independen, kelompok kiri, dan anggota Front Aksi Islam (IAF), sayap politik Ikhwanul Muslimin yang merupakan partai oposisi terbesar.
Di sebuah pasar ramai di pusat Amman, dimana poster-poster kampanye terpampang, warga setempat mengungkapkan pendapat beragam tentang partisipasi mereka dalam pemilu.
"Pemilu itu penting dan vital. Ini adalah kesempatan kita untuk menyuarakan pendapat dan memilih siapa yang mewakili kita di parlemen, meskipun dalam hati kita ragu akan ada perubahan signifikan," ujar Issa Ahmed, pensiunan berusia 65 tahun.
Krisis dan Perang Tanpa Akhir
Hanya dua hari menjelang pemungutan suara, sebuah insiden kekerasan langka terjadi. Seorang warga Yordania menewaskan tiga penjaga keamanan Israel di perbatasan antara Yordania dan Tepi Barat yang diduduki.
Pemilu kali ini, yang diadakan setiap empat tahun sekali, merupakan yang pertama di bawah undang-undang baru yang disahkan pada Januari 2022. UU tersebut menambah jumlah kursi di parlemen, menyediakan lebih banyak kursi untuk perempuan, dan menurunkan batas usia minimal untuk calon anggota parlemen.
Para calon yang bertarung dalam pemilu ini termasuk perwakilan suku-suku besar Yordania, kelompok tengah, dan pendukung pemerintah. Selain itu, ada juga calon independen, kelompok kiri, dan anggota Front Aksi Islam (IAF), sayap politik Ikhwanul Muslimin yang merupakan partai oposisi terbesar.
Di sebuah pasar ramai di pusat Amman, dimana poster-poster kampanye terpampang, warga setempat mengungkapkan pendapat beragam tentang partisipasi mereka dalam pemilu.
"Pemilu itu penting dan vital. Ini adalah kesempatan kita untuk menyuarakan pendapat dan memilih siapa yang mewakili kita di parlemen, meskipun dalam hati kita ragu akan ada perubahan signifikan," ujar Issa Ahmed, pensiunan berusia 65 tahun.
Krisis dan Perang Tanpa Akhir