Ketegangan Memanas, PBB Desak Israel Batalkan RUU Anti-UNRWA
Nabil
Rabu, 09 Oktober 2024 - 07:33 WIB
Ketegangan Memanas, PBB Desak Israel Batalkan RUU Anti-UNRWA
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Selasa lalu menyatakan bahwa rancangan undang-undang Israel yang akan menghentikan operasi badan pengungsi Palestina PBB (UNRWA) di Jalur Gaza dan Tepi Barat akan menjadi "bencana besar" jika disahkan. Guterres mengatakan telah menyampaikan kekhawatirannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
"Langkah seperti itu akan melumpuhkan upaya meringankan penderitaan manusia dan ketegangan di Gaza, dan bahkan di seluruh Wilayah Palestina yang Diduduki. Ini akan menjadi bencana besar dalam situasi yang sudah sangat memprihatinkan," ujarnya kepada wartawan.
Parlemen Israel pada Juli lalu telah memberikan persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang yang akan menyatakan UNRWA sebagai organisasi teroris. Para pemimpin Israel menuduh staf UNRWA berkolaborasi dengan militan Hamas di Gaza.
Menanggapi pernyataan Guterres, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan kepada media: "Israel bekerja sama dengan lembaga-lembaga kemanusiaan yang benar-benar tertarik pada bantuan kemanusiaan dan bukan aktivisme atau, dalam beberapa kasus, terorisme."
PBB menyatakan pada Agustus lalu bahwa sembilan staf UNRWA mungkin terlibat dalam serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, dan telah dipecat. Kemudian seorang komandan Hamas di Lebanon - yang tewas bulan lalu dalam serangan Israel - diketahui memiliki pekerjaan di UNRWA.
UNRWA menyediakan pendidikan, kesehatan, dan bantuan bagi jutaan warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah. Lembaga ini telah lama memiliki hubungan yang tegang dengan Israel, namun hubungan tersebut semakin memburuk sejak dimulainya perang di Gaza dan Israel berulang kali menyerukan agar UNRWA dibubarkan.
Guterres berbicara kepada wartawan sehari setelah peringatan satu tahun serangan mengejutkan Hamas di Israel, di mana sekitar 1.200 orang tewas dan sekitar 250 orang disandera, menurut data Israel. Lebih dari 100 sandera masih ditahan di Gaza oleh kelompok militan Palestina tersebut.
"Langkah seperti itu akan melumpuhkan upaya meringankan penderitaan manusia dan ketegangan di Gaza, dan bahkan di seluruh Wilayah Palestina yang Diduduki. Ini akan menjadi bencana besar dalam situasi yang sudah sangat memprihatinkan," ujarnya kepada wartawan.
Parlemen Israel pada Juli lalu telah memberikan persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang yang akan menyatakan UNRWA sebagai organisasi teroris. Para pemimpin Israel menuduh staf UNRWA berkolaborasi dengan militan Hamas di Gaza.
Menanggapi pernyataan Guterres, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan kepada media: "Israel bekerja sama dengan lembaga-lembaga kemanusiaan yang benar-benar tertarik pada bantuan kemanusiaan dan bukan aktivisme atau, dalam beberapa kasus, terorisme."
PBB menyatakan pada Agustus lalu bahwa sembilan staf UNRWA mungkin terlibat dalam serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, dan telah dipecat. Kemudian seorang komandan Hamas di Lebanon - yang tewas bulan lalu dalam serangan Israel - diketahui memiliki pekerjaan di UNRWA.
UNRWA menyediakan pendidikan, kesehatan, dan bantuan bagi jutaan warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah. Lembaga ini telah lama memiliki hubungan yang tegang dengan Israel, namun hubungan tersebut semakin memburuk sejak dimulainya perang di Gaza dan Israel berulang kali menyerukan agar UNRWA dibubarkan.
Guterres berbicara kepada wartawan sehari setelah peringatan satu tahun serangan mengejutkan Hamas di Israel, di mana sekitar 1.200 orang tewas dan sekitar 250 orang disandera, menurut data Israel. Lebih dari 100 sandera masih ditahan di Gaza oleh kelompok militan Palestina tersebut.