Masjid Muhammad Ceng Hoo Simbol Keharmonisan Muslim China di Surabaya
Fajar adhitya
Kamis, 10 Februari 2022 - 07:50 WIB
Masjid Muhammad Ceng Hoo di Jalan Gading No 2 Kecamatan Genteng, Surabaya. Foto: Dok. Simas Kemenag
Surabaya, Jawa Timur memiliki sebuah masjid bergaya arsitektur khas China yang menjadi simbol keragaman masyarakat di sana. Berlokasi di Jalan Gading No 2 Kecamatan Genteng, masjid itu bernama Masjid Muhammad Cheng Hoo.
Selama pandemi Covid-19, Masjid Muhammad Cheng Hoo aktif menyelenggarakan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak. Sekilas, tampilan fisik Masjid Muhammad Cheng Hoo menyerupai klenteng yang menonjol dengan menara pagoda delapan sisi yang disebut Pat Kwa. Warna merah yang merupakan khas China mendominasi tembok bangunan yang dipadupadankan dengan hijau dan kuning.
Nama masjid ini dinisbatkan kepada Laksamana Muhammad Cheng Hoo, seorang bahariawan muslim yang melayari Lautan Malaka pada abad ke-15. Jasa besar Cheng Hoo yang senantiasa menyebarkan pesan damai itulah yang kelak menginspirasi komunitas Muslim China di Surabaya untuk membangun masjid dengan mengabadikan namanya.
Rancangan awal Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya diilhami dari bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi pada masa Dinasti Liao (916-1125). Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya Jawa.
Masjid Niu Jie merupakan masjid tertua dan terbesar di Beijing, masjid ini sempat dihancurkan dihancurkan oleh tentara Mongol pada serangan tahun 1215, kemudian dibangun kembali pada 1443 periode Dinasti Ming dan secara signifikan diperluas pada 1696 pada zaman Dinasti Qing.
Arsitektur masjid itulah yang kemudian direka ulang oleh Ir. Abdul Aziz dari Bojonegoro lalu diterapkan saat membangun Masjid Muhammad Cheng Hoo. Bangunan Masjid secara umum menyerupai kelenteng dengan warna yang mencolok. Warna hijau dan merah yang mendominasi bangunan, serta warna kuning, putih, biru, coklat, dan emas pada ragam hias untuk penghias masjid.
Ornamennya kental nuansa China klasik. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.
Selama pandemi Covid-19, Masjid Muhammad Cheng Hoo aktif menyelenggarakan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak. Sekilas, tampilan fisik Masjid Muhammad Cheng Hoo menyerupai klenteng yang menonjol dengan menara pagoda delapan sisi yang disebut Pat Kwa. Warna merah yang merupakan khas China mendominasi tembok bangunan yang dipadupadankan dengan hijau dan kuning.
Nama masjid ini dinisbatkan kepada Laksamana Muhammad Cheng Hoo, seorang bahariawan muslim yang melayari Lautan Malaka pada abad ke-15. Jasa besar Cheng Hoo yang senantiasa menyebarkan pesan damai itulah yang kelak menginspirasi komunitas Muslim China di Surabaya untuk membangun masjid dengan mengabadikan namanya.
Rancangan awal Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya diilhami dari bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi pada masa Dinasti Liao (916-1125). Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya Jawa.
Masjid Niu Jie merupakan masjid tertua dan terbesar di Beijing, masjid ini sempat dihancurkan dihancurkan oleh tentara Mongol pada serangan tahun 1215, kemudian dibangun kembali pada 1443 periode Dinasti Ming dan secara signifikan diperluas pada 1696 pada zaman Dinasti Qing.
Arsitektur masjid itulah yang kemudian direka ulang oleh Ir. Abdul Aziz dari Bojonegoro lalu diterapkan saat membangun Masjid Muhammad Cheng Hoo. Bangunan Masjid secara umum menyerupai kelenteng dengan warna yang mencolok. Warna hijau dan merah yang mendominasi bangunan, serta warna kuning, putih, biru, coklat, dan emas pada ragam hias untuk penghias masjid.
Ornamennya kental nuansa China klasik. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.