home global news

KH Miftachul Akhyar Ungkap Tiga Pusaka Kesaktian NU

Kamis, 31 Oktober 2024 - 09:00 WIB
Rais Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Akhyar
Rais Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Akhyar mengungkapkan tiga tongkat pusaka "kesaktian" (kebesaran) jam'iyah/organisasi dan jamaah/anggota NU yakni sami'na wa atho'na (kepatuhan ulama), tabayyun (cek informasi tentang NU) dan tertib regulasi (peraturan-AD/ART).

"Sekarang, kesaktian NU masih jam'iyah, bukan jamaah. Jadi organisasinya yang besar, tapi jamaahnya belum besar secara ekonomi atau tidak sejahtera, apa NU-nya kurang sakti," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis 31 Oktober 2024.

Saat menghadiri pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang 2024-2029 (29/10), Kiai Miftah mengutip perintah "Iqra'" (Baca/Ilmu) dalam Al-Qur'an itu disambungkan dengan perintah "Iqra' bismi Robbik" (Bacalah dengan Nama Tuhan-MU).

"Artinya, perintah Ilmu/Baca itu menyatu dengan perintah Ibadah (Ketuhanan/Sholat). Pintar, gelar, atau ilmu yang tinggi itu penting, tapi bukan iqra saja, bukan menjadi ulama/ilmu saja, karena bisa melahirkan sikap mementingkan pribadi/kelompok/golongan, tapi kalau dipadukan dengan atas nama Allah, maka akan ada kebersamaan," katanya.

Baca juga:Menag Nasaruddin Umar: Kerukunan Umat Beragama Potensi Indonesia di Mata Dunia

Pengasuh Pesantren Miftakhussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu mencontohkan Sampang yang sejak dulu dikenal tidak mempunyai gedung bioskop atau tempat kemaksiatan, bahkan NU-nya 99 persen, tapi kenapa masyarakatnya masih belum baik secara kesejahteraan.

"Kebesaran (karomah/kesaktian) secara jam'iyah (organisasi) dan secarajamaah (anggota) yakni sami'na wa atho'na (kepatuhan pada ulama); tabayyun (cek/tertib bila ada informasi yang tidak jelas tentang NU dan jamaah NU); dan tertib regulasi/peraturan-AD/ART (kepatuhan pada hasil kesepakatan)," katanya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya