Ciptakan Pesantren Ramah Anak, Ponpes Al-Raudloh Kajen Bangun Kedekatan Empati dengan Santri
Tim langit 7
Ahad, 10 November 2024 - 10:00 WIB
Pondok Pesantren Al-Raudloh Kajen mempunyai cara khusus untuk menciptakan pesantren ramah anak.
Pondok Pesantren Al-Raudloh Kajen mempunyai cara khusus untuk menciptakan pesantren ramah anak.
Menurut pengasuh pesantren, KH Muhammad Farid Abbad, upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan bisa menggunakan pendekatan personal dan emosional (ikatan batin) dengan para santri.
Di pesantren yang ia asuh, regulasi atau peraturan bukan hanya sekadar hitam di atas putih, tetapi juga hukum yang perlu ditegakkan dengan pendekatan.
Pendekatan yang ia gunakan untuk menciptakan pesantren ramah santri ialah dengan pendekatan kultural.
Ia menambahkan, yang ditekankan di pesantren yang ia asuh bahwa pesantren merupakan rumah bersama baik bagi santri, pengurus maupun pengasuh. Relasinya seperti bapak dengan anak dan kakak dengan adik.
“Maka setiap hari saya pribadi atau abah dan ibu berinteraksi (dengan santri), tidak hanya saat ngaji dan kegiatan pesantren saja. Namun, setiap hari itu kadang ngobrol, makan jajan bersama dan ngopi bersama. Itu adalah mekanisme kultural. Hingga saat ini kita hapal satu persatu nama-nama santri kita,” jelasnya kepada NU Online.
Dia mempunyai strategi khusus apabila terjadi kekerasan terhadap santri, terutama kekerasan mental atau perundungan.
Menurut pengasuh pesantren, KH Muhammad Farid Abbad, upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan bisa menggunakan pendekatan personal dan emosional (ikatan batin) dengan para santri.
Di pesantren yang ia asuh, regulasi atau peraturan bukan hanya sekadar hitam di atas putih, tetapi juga hukum yang perlu ditegakkan dengan pendekatan.
Pendekatan yang ia gunakan untuk menciptakan pesantren ramah santri ialah dengan pendekatan kultural.
Ia menambahkan, yang ditekankan di pesantren yang ia asuh bahwa pesantren merupakan rumah bersama baik bagi santri, pengurus maupun pengasuh. Relasinya seperti bapak dengan anak dan kakak dengan adik.
“Maka setiap hari saya pribadi atau abah dan ibu berinteraksi (dengan santri), tidak hanya saat ngaji dan kegiatan pesantren saja. Namun, setiap hari itu kadang ngobrol, makan jajan bersama dan ngopi bersama. Itu adalah mekanisme kultural. Hingga saat ini kita hapal satu persatu nama-nama santri kita,” jelasnya kepada NU Online.
Dia mempunyai strategi khusus apabila terjadi kekerasan terhadap santri, terutama kekerasan mental atau perundungan.