Kisah Muadzin Legendaris Masjidil Haram, Ternyata dari Indonesia
Fajar adhitya
Rabu, 15 September 2021 - 20:20 WIB
Kisah muadzin legendaris di Masjidil Haram yang ternyata dari Indonesia. (Foto: Antara).
Seorang muadzin legendaris Masjidil Haram ternyata dari Indonesia. Adalah Syeikh Muhammad Khalil Raml yang tersohor memiliki suara merdu mengumandangkan adzan.
Khalil Raml merupakan salah satu muadzin terbaik yang pernah dimiliki Masjidil Haram, Mekkah Al Mukarramah. Tapi siapa sangka kalau dia merupakan putra kelahiran Jawa.
Syeikh Muhammad Khalil Raml lahir di Indonesia pada 1358 Hijriah atau 1939 Masehi. Namun, ia tumbuh besar di lingkungan Serambi Utsmani, di sekitar Ka'bah
Kakek dan ayahnya juga seorang muadzin yang dihormati di Masjidil Haram. Karena itulah dia tumbuh menjadi seorang muadzin andalan Masjidil Haram.
Pada usia 36 tahun, Syeikh Muhammad Khalil Raml secara resmi bertugas sebagai muadzin di masjid yang menjadi titik awal Isra Mi'raj Rasulullah itu.
Adzannya menggema di Masjidil Haram selama hampir 30 tahun sejak pengangkatan resminya pada 1975 Masehi.
Senin 7 Rabiul Awal 1425 Hijriah, saat adzan subuh pertama menjadi adzan terakhirnya. Kumandang adzannya saat itu didengar pula Syeikh Farooq Hadrawi, Syeikh Muhammad Siraj Maroof, dan Syeikh Muhammad Aman.
Khalil Raml merupakan salah satu muadzin terbaik yang pernah dimiliki Masjidil Haram, Mekkah Al Mukarramah. Tapi siapa sangka kalau dia merupakan putra kelahiran Jawa.
Syeikh Muhammad Khalil Raml lahir di Indonesia pada 1358 Hijriah atau 1939 Masehi. Namun, ia tumbuh besar di lingkungan Serambi Utsmani, di sekitar Ka'bah
Kakek dan ayahnya juga seorang muadzin yang dihormati di Masjidil Haram. Karena itulah dia tumbuh menjadi seorang muadzin andalan Masjidil Haram.
Pada usia 36 tahun, Syeikh Muhammad Khalil Raml secara resmi bertugas sebagai muadzin di masjid yang menjadi titik awal Isra Mi'raj Rasulullah itu.
Adzannya menggema di Masjidil Haram selama hampir 30 tahun sejak pengangkatan resminya pada 1975 Masehi.
Senin 7 Rabiul Awal 1425 Hijriah, saat adzan subuh pertama menjadi adzan terakhirnya. Kumandang adzannya saat itu didengar pula Syeikh Farooq Hadrawi, Syeikh Muhammad Siraj Maroof, dan Syeikh Muhammad Aman.