Seberapa Efektif Penerapan Sistem Kerja Hibrida akibat Covid-19
Ahmad zuhdi
Kamis, 16 September 2021 - 21:13 WIB
Ilustrasi bekerja dari rumah atau work from home yang diakibatkan mewabahnya virus Covid-19 yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China 2019 silam. Foto: Langit7.id/iStock
Pandemi Covid-19 membawa perubahan besar dalam peradaban manusia modern. Salah satunya mengubah kebiasaan aktivitas perkantoran.
Baru-baru ini, perusahaan teknologi Entrust mengulik tantangan peluang dan efektivitas bekerja secara hibrida, yakni penggabungan antara bekerja di kantor dengan di rumah atau lokasi lainnya. Terutama di masa pandemi Covid-19. Mereka pun membuat penelitian yang diberi nama Securing the New Hybrid Workplace.
Baca Juga:Tekan Penggunaan BBM di Pembangkit, PLN Gandeng PGN Maksimalkan Pemanfaatan Gas
"Ketika para pemimpin bisnis merencanakan model kerja di masa depan, kami ingin mengetahui bagaimana mereka mengadaptasikan keamanan dan identitas untuk model kerja hybrid," kata Director of Digital Security, Asia Pacific and Japan, Entrust, James Cook, pada keterangannya, Kamis (16/9/2021).
Cook menerangkan, mayoritas pemimpin bisnis (64 persen) dan karyawan (54 persen) secara global menyatakan perusahaan mereka saat ini menggunakan model kerja berbasis hibrida. Mayoritas pemimpin bisnis (82 persen) di Indonesia mengatakan perusahaan mereka menggunakan model hibrida dan 65 persen karyawan setuju.
Riset menunjukkan, cara bekerja hibrida akan terus hadir. Namun, ada kekhawatiran besar terkait sistem keamanan. Khususnya saat data kantor ikut pindah ke rumah saat karyawan menyelesaikan tugas-tugasnya menjadi tantangan baru. Perusahaan-perusahaan harus mengubah pendekatan keamanan data mereka karena karyawan lebih terdesentralisasi dibandingkan sebelumnya.
Meskipun keamanan data jadi prioritas bagi pemimpin bisnis di Indonesia, sebanyak 88 persen dari mereka mengatakan perusahaan yang mereka pimpin menawarkan pelatihan keamanan data kepada karyawan. Sedangkan hanya 69 persen karyawan yang mengatakan, perusahaan mereka menawarkan pelatihan tersebut. Ini mengindikasikan ada kesenjangan komunikasi.
Baru-baru ini, perusahaan teknologi Entrust mengulik tantangan peluang dan efektivitas bekerja secara hibrida, yakni penggabungan antara bekerja di kantor dengan di rumah atau lokasi lainnya. Terutama di masa pandemi Covid-19. Mereka pun membuat penelitian yang diberi nama Securing the New Hybrid Workplace.
Baca Juga:Tekan Penggunaan BBM di Pembangkit, PLN Gandeng PGN Maksimalkan Pemanfaatan Gas
"Ketika para pemimpin bisnis merencanakan model kerja di masa depan, kami ingin mengetahui bagaimana mereka mengadaptasikan keamanan dan identitas untuk model kerja hybrid," kata Director of Digital Security, Asia Pacific and Japan, Entrust, James Cook, pada keterangannya, Kamis (16/9/2021).
Cook menerangkan, mayoritas pemimpin bisnis (64 persen) dan karyawan (54 persen) secara global menyatakan perusahaan mereka saat ini menggunakan model kerja berbasis hibrida. Mayoritas pemimpin bisnis (82 persen) di Indonesia mengatakan perusahaan mereka menggunakan model hibrida dan 65 persen karyawan setuju.
Riset menunjukkan, cara bekerja hibrida akan terus hadir. Namun, ada kekhawatiran besar terkait sistem keamanan. Khususnya saat data kantor ikut pindah ke rumah saat karyawan menyelesaikan tugas-tugasnya menjadi tantangan baru. Perusahaan-perusahaan harus mengubah pendekatan keamanan data mereka karena karyawan lebih terdesentralisasi dibandingkan sebelumnya.
Meskipun keamanan data jadi prioritas bagi pemimpin bisnis di Indonesia, sebanyak 88 persen dari mereka mengatakan perusahaan yang mereka pimpin menawarkan pelatihan keamanan data kepada karyawan. Sedangkan hanya 69 persen karyawan yang mengatakan, perusahaan mereka menawarkan pelatihan tersebut. Ini mengindikasikan ada kesenjangan komunikasi.