home sosok muslim

Pak Gun, Kesederhanaan Guru Besar dan Sang Khatib

Selasa, 24 Desember 2024 - 17:19 WIB
Pak Gun, Kesederhanaan Guru Besar dan Sang Khatib
DR.Mahli Zainuddin Tago

LANGIT7.ID-Jakarta; Jalan Kauman Jogja, 1992. Rapat rutin Rabu malam berlangsung di kantor Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) DIY. Sebagai pengurus baru ikutan aku menyimak pembicaraan para senior yang selalu hangat. Beberapa dari mereka aku kenal sebelumnya. Mereka kakak kelasku di SMA Muhi, seniorku di IPM, atau orang Kauman dimana aku pernah kos beberapa waktu. Ketua kami Kang Azman dan Kang Isnawan misalnya adalah alumni Muhi orang Kauman. Tetapi satu pengurus masih baru bagiku. Beliau humoris tetapi ketika berbicara selalu konseptual. Maklum beliau juga akademisi. Tentang beliau aku bercerita kali ini. Tentang seorang tokoh yang multi talenta tetapi tetap bersahaja. Nama lengkapnya Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM, ASEAN Eng. Selanjutnya dalam tulisan ini aku tulis Pak Gun saja.

Aku kenal Pak Gun agak belakangan. Meski kami sesama alumni Muhi dan beliau juga orang Kauman. Beliau terlalu senior di atasku. Ketika aku masuk Muhi pada 1982 beliau sudah lama lulus dan kuliah di Fakultas Pertanian UGM. Ketika kos di Kauman dan menjadi jamaah Masjid Gedhe pada era 1984-1985 aku belum lagi kenal beliau yang juga jamaah aktif Masjid Gedhe. Ketika aku aktif di IPM di Jogja beliau sudah menjadi aktivis IMM di UGM. Ketika aku menjadi dosen baru di Fakultas Agama Islam UMY beliau sudah menjadi dosen senior dan pimpinan di Fakultas Pertanian UMY. Pemuda Muhammadiyah menjadi ajang yang mendekatkan aku dengan beliau. Meski belum dekat-dekat amat. Beliau kan pengurus senior dan aku baru anak bawang yang masuk gerbong kepengurusan di tengah periode berjalan.

Tetapi belakangan beberapa irisan kegiatan membuat aku merasa lebih dekat dengan Pak Gun. Misalnya di Majelis Pustaka PP Muhammadiyah dimana aku anggota ikutan dan Pak Gun wakil ketuanya. Ketuanya adalah senior kami Pak Abuseri Dimyati yang juga dekanku di FAI UMY. Kedekatan personal membuat Pak Gun mempercayakan penyelenggaraan qurban beliau sekeluarga padaku. Selama bertahun-tahun sapi qurban keluarga beliau sebagai warga Kauman disalurkan ke jamaah Masjid Darussalam Ngampilan tempat aku lama berdomisili. Uniknya beliau sekeluarga terkadang tidak mengambil bagian sohibul qurban. Sepenuhnya diserahkan kepada jamaah. Setelah aku pindah domisili daging qurban keluarga Pak Gun menjangkau jamaah kami di Masjid Iman Wijaya di Gonjen-Tamantirto Ringrud Selatan Jogja. Bahkan sampai kini.

Pak Gun adalah tokoh multi talenta. Tentu saja beliau adalah seorang akademisi. Bidang keahlian beliau adalah ilmu tanah. Sejak awal beliau memang sudah memilih jurusan IPA di SMA Muhi. Pada 1979 beliau kuliah S-1 di Fakultas Pertanian UGM. Setamat dari UGM Pak Gun sempat bekerja di perusahaan perkebunan di Bengkulu. Sejak 1986 beliau masuk dunia kampus dengan menjadi dosen PNS yang ditempatkan di Fakultas Pertanian UMY. Pak Gun lalu melanjutkan studi S-2 di almamaternya dan memperoleh gelar Doktor dari Universitas Padjajaran Bandung. Di dunia kampus Pak Gun banyak terlibat sebagai pimpinan dari level Prodi sampai Universitas. Pak Gun pernah menjadi Wakil Dekan, Direktur Pasca Sarjana, dan menjadi Wakil Rektor Bidang Akademik. Sejak Nopember 2021 Pak Gun menyandang jabatan fungsional sebagai Guru Besar atau Profesor.

Pada periode 2017-2025 Pak Gun menjadi rektor UMY dua periode. Pada masa ini UMY menghadapi tantangan yang sangat berat. Kompetitor makin banyak. Sedangkan masyarakat tidak melihat kualitas berdasar akreditasi BAN. Mereka masih silau dengan status negeri sebuah perguruan tinggi. Maka calon mahasiswa baru PTS makin kecil karena dihisap hampir habis oleh perguruan tinggi negeri (PTN). Terutama PTN Berbadan Hukum. Maka sejak 2022 UMY dan semua PTS mengalami penurunan jumlah pendaftar mahasiswa baru. Tetapi Pak Gun menegaskan UMY tetap optimis. Beliau berhasil meningkatkan kinerja banyak unit dan menjalankan efisiensi. Buktinya kinerja rata-rata unit mencapai 80 persen dengan serapan anggaran hanya 66 persen. Pak Gun juga berhasil membawa UMY melewati masa-masa sulit akibat Pandemi Covid 19.

Selama dua periode memimpin UMY Pak Gun memiliki gaya kepemimpinan yang menarik. Bagi banyak dosen dan karyawan, pada periode pertama Pak Gun memimpin dengan gaya keras. Beliau tidak segan menegur dosen maupun staf yang tidak fokus. Meski sebagai PNS beliau memimpin UMY seakan sebagai dosen yayasan yang hidupnya tergantung pada maju mundurnya UMY. Untuk itu beliau menentapkan IKS bagi setiap dosen, Prodi, Fakultas, maupun Universitas. Dengan sistem infromasi manajemen yang terukur Pak Gun berhasil membawa UMY leading. Bukan hanya di level Jogja tetapi juga di level nasional. Tetapi pada periode kedua Pak Gun nampak lebih humanistik. Beliau berhasil membawa UMY siap berlaga pada level dunia dengan gaya kepemimpinan yang lebih lembut. Sisi kehangatannya sebagai pecinta seni lebih nampak.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya