Krisis Kemanusiaan Gaza: Cuaca Ekstrem Ancam Nyawa Pengungsi
Nabil
Senin, 30 Desember 2024 - 04:50 WIB
Krisis Kemanusiaan Gaza: Cuaca Ekstrem Ancam Nyawa Pengungsi
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Tim medis Gaza melaporkan kabar duka. Seorang bocah mungil berusia 20 hari telah meninggal dunia pada hari Minggu. Penyebabnya adalah suhu dingin yang sangat ekstrem di wilayah konflik tersebut.
Bocah malang bernama Jumaa al-Batran itu tidak mampu bertahan melawan udara dingin yang menusuk tulang. Saat ini, saudara kembarnya masih berjuang antara hidup dan mati di ruang perawatan intensif rumah sakit setempat.
Kepala rumah sakit lapangan Gaza, Marwan al-Hamas mengungkapkan fakta yang lebih menyedihkan. Jumaa adalah korban kelima dalam beberapa minggu terakhir. Empat anak lainnya juga telah meninggal karena cuaca dingin yang ekstrem.
"Kami tidak punya apa-apa di sini. Listrik mati total. Air yang ada sangat dingin. Gas tidak ada. Pemanas tidak ada. Bahkan makanan pun sulit didapat," ungkap Yahya al-Batran, ayah kedua anak kembar tersebut dengan suara bergetar. "Anak-anak saya sekarat di depan mata, tapi tidak ada yang bisa menolong. Jumaa sudah pergi, dan saya takut Ali akan menyusul kakaknya."
Yahya dan istrinya kini tinggal di tenda seadanya yang sudah rusak di kota Deir el-Balah, Gaza tengah. Nasib mereka sama dengan ratusan ribu pengungsi lain yang berdesakan di tenda-tenda darurat. Tenda-tenda itu tersebar di Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah.
Sejak pecahnya konflik Israel-Hamas Oktober lalu, 2,4 juta warga Gaza hidup dalam kesulitan. Mereka kekurangan listrik, air bersih, makanan, dan layanan kesehatan. Hampir semua penduduk Gaza sudah terpaksa mengungsi minimal satu kali sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Bocah malang bernama Jumaa al-Batran itu tidak mampu bertahan melawan udara dingin yang menusuk tulang. Saat ini, saudara kembarnya masih berjuang antara hidup dan mati di ruang perawatan intensif rumah sakit setempat.
Kepala rumah sakit lapangan Gaza, Marwan al-Hamas mengungkapkan fakta yang lebih menyedihkan. Jumaa adalah korban kelima dalam beberapa minggu terakhir. Empat anak lainnya juga telah meninggal karena cuaca dingin yang ekstrem.
"Kami tidak punya apa-apa di sini. Listrik mati total. Air yang ada sangat dingin. Gas tidak ada. Pemanas tidak ada. Bahkan makanan pun sulit didapat," ungkap Yahya al-Batran, ayah kedua anak kembar tersebut dengan suara bergetar. "Anak-anak saya sekarat di depan mata, tapi tidak ada yang bisa menolong. Jumaa sudah pergi, dan saya takut Ali akan menyusul kakaknya."
Yahya dan istrinya kini tinggal di tenda seadanya yang sudah rusak di kota Deir el-Balah, Gaza tengah. Nasib mereka sama dengan ratusan ribu pengungsi lain yang berdesakan di tenda-tenda darurat. Tenda-tenda itu tersebar di Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah.
Sejak pecahnya konflik Israel-Hamas Oktober lalu, 2,4 juta warga Gaza hidup dalam kesulitan. Mereka kekurangan listrik, air bersih, makanan, dan layanan kesehatan. Hampir semua penduduk Gaza sudah terpaksa mengungsi minimal satu kali sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
(lam)