home masjid

Makna Wudhu dalam Perspektif Sains dan Kesehatan

Rabu, 01 Januari 2025 - 15:15 WIB
ilustrasi
Wudhu atau bersuci bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi memiliki dimensi ilmiah dan spiritual yang mendalam. Ini diungkapkan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar saat doa bersama akhir tahun di Auditorium BMKG.

Imam besar Masjid Istiqlal ini mengutip penelitian Profesor Baron Ehrenfels, seorang neurolog dan psikiater asal Jerman. Profesor ini menunjukkan, wudhu dapat memengaruhi gelombang otak manusia.

“Ketika kita berwudhu, air yang sejuk membantu menurunkan gelombang otak dari beta, yang berada di tingkat tinggi, menuju alpha, yang lebih tenang. Bahkan, dengan khusyuk, kita bisa mencapai gelombang theta, yang merupakan kondisi ideal untuk mendapatkan inspirasi dan ketenangan batin,” ujarnya.

Nasaruddin menjelaskan, Al-Qur’an telah mengatur tata cara wudhu dengan membasuh bagian tubuh tertentu, seperti wajah, tangan hingga siku, dan kaki sampai mata kaki.

Menurut ilmu neurologi, bagian-bagian tubuh ini merupakan pusat saraf yang memengaruhi ketenangan jiwa dan tubuh. “Ini bukan sekadar ritual, tapi terapi. Saat kita membasuh tubuh dengan air wudhu, kita tidak hanya membersihkan jasmani, tapi juga menyegarkan rohani. Inilah salah satu hikmah luar biasa dari ajaran Islam,” tambahnya.

Menag juga mengingatkan bahwa wudu bukan sekadar membasuh anggota tubuh, tetapi harus dirasakan dan direnungkan. Ia menjelaskab bahwa air wudu mampu menjadi terapi yang memunculkan kecerdasan batin.

"Islam juga menganjurkan berbagai kiat seperti berwudu dengan membaca doa, tidak berbicara selama wudhu. Semua langkah tersebut adalah bagian dari terapi yang memunculkan kecerdasan batin dan spiritual," terangnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya