Haekal: Isra Mikraj Nabi Muhammad Itu Ilmiah
Miftah yusufpati
Ahad, 05 Januari 2025 - 18:30 WIB
Haekal: Isra Mikraj Nabi Muhammad Itu Ilmiah
LANGIT7.ID-Jakarta; Para ahli ilmu kalam berbeda pendapat mengenai isra mikraj. Perbedaan pendapat terutama mengenai apakah isra dan mikraj itu keduanya dengan jasad, ataukah mikraj dengan ruh dan isra dengan jasad, ataukah isra dan mikraj itu semuanya dengan ruh.
Cendekiawan Mesir, Muhammad Husain Haekal (1888 – 1956) dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Hidup Muhammad ” memaparkan isra dan mikraj ini dalam hidup kerohanian Nabi Muhammad mempunyai arti yang tinggi dan agung sekali, suatu arti yang lebih besar dari yang biasa mereka lukiskan itu, yang kadang tidak sedikit dikacau dan dirusak oleh imajinasi ahli-ahli ilmu kalam yang subur itu.
Jiwa yang sungguh kuat itu, tatkala terjadi isra dan mikraj, telah dipersatukan oleh kesatuan wujud ini, yang sudah sampai pada puncak kesempurnaannya.
Baca juga: Kisah Rasulullah Menyaksikan Neraka dan Surga saat Isra Mikraj
Pada saat itu tak ada sesuatu tabir ruang dan waktu atau sesuatu yang dapat menghalangi intelek dan jiwa Nabi Muhammad, yang akan membuat penilaian kita tentang hidup ini menjadi nisbi, terbatas oleh kekuatan-kekuatan kita yang sensasional, yang dapat diarahkan menurut akal pikiran.
Haekal mengatakan pada saat itu semua batas jadi hanyut di depan hati nurani Muhammad.
Cendekiawan Mesir, Muhammad Husain Haekal (1888 – 1956) dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Hidup Muhammad ” memaparkan isra dan mikraj ini dalam hidup kerohanian Nabi Muhammad mempunyai arti yang tinggi dan agung sekali, suatu arti yang lebih besar dari yang biasa mereka lukiskan itu, yang kadang tidak sedikit dikacau dan dirusak oleh imajinasi ahli-ahli ilmu kalam yang subur itu.
Jiwa yang sungguh kuat itu, tatkala terjadi isra dan mikraj, telah dipersatukan oleh kesatuan wujud ini, yang sudah sampai pada puncak kesempurnaannya.
Baca juga: Kisah Rasulullah Menyaksikan Neraka dan Surga saat Isra Mikraj
Pada saat itu tak ada sesuatu tabir ruang dan waktu atau sesuatu yang dapat menghalangi intelek dan jiwa Nabi Muhammad, yang akan membuat penilaian kita tentang hidup ini menjadi nisbi, terbatas oleh kekuatan-kekuatan kita yang sensasional, yang dapat diarahkan menurut akal pikiran.
Haekal mengatakan pada saat itu semua batas jadi hanyut di depan hati nurani Muhammad.