Persepsi Masyarakat Terhadap Gender Banyak Bersumber dari Tradisi Keagamaan
Miftah yusufpati
Jum'at, 10 Januari 2025 - 04:10 WIB
Prof Dr KH Hasaruddin Umar. Ist
LANGIT7.ID-- Isu jender atau gender senantiasa ramai dibicarakan, walaupun gender itu sendiri tidak jarang diartikan secara keliru.
Elaine Showalter dalam "Speaking of Gender" (New York & London: Routledge, 1989) menyebut wacana gender mulai ramai dibicarakan pada awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, tetapi menggantinya dengan isu Jender (gender discourse).
"Sebelumnya istilah seks dan gender digunakan secara rancu," tulis Prof Nasaruddin Umar dalam "Perspektif Jender Dalam Islam" di Buku Jurnal Pemikiran Islam Paramadina.
Dimensi teologi gender masih belum banyak dibicarakan, kata Nasaruddin, padahal persepsi masyarakat terhadap jender banyak bersumber dari tradisi keagamaan.
Ketimpangan peran sosial berdasarkan jender (gender inequality) dianggap sebagai divine creation, segalanya bersumber dari Tuhan. Berbeda dengan persepsi para feminis yang menganggap ketimpangan itu semata-mata sebagai konstruksi masyarakat (social construction).
Baca juga: Buya Yahya: Gender Non-Biner itu Urusan Orang Bingung, Harus Ditolong
Menurut penelitian para antropolog, masyarakat pra-primitif, yang biasa juga disebut dengan masyarakat liar (savage society) sekitar sejuta tahun lalu, menganut pola keibuan (maternal system).
Elaine Showalter dalam "Speaking of Gender" (New York & London: Routledge, 1989) menyebut wacana gender mulai ramai dibicarakan pada awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, tetapi menggantinya dengan isu Jender (gender discourse).
"Sebelumnya istilah seks dan gender digunakan secara rancu," tulis Prof Nasaruddin Umar dalam "Perspektif Jender Dalam Islam" di Buku Jurnal Pemikiran Islam Paramadina.
Dimensi teologi gender masih belum banyak dibicarakan, kata Nasaruddin, padahal persepsi masyarakat terhadap jender banyak bersumber dari tradisi keagamaan.
Ketimpangan peran sosial berdasarkan jender (gender inequality) dianggap sebagai divine creation, segalanya bersumber dari Tuhan. Berbeda dengan persepsi para feminis yang menganggap ketimpangan itu semata-mata sebagai konstruksi masyarakat (social construction).
Baca juga: Buya Yahya: Gender Non-Biner itu Urusan Orang Bingung, Harus Ditolong
Menurut penelitian para antropolog, masyarakat pra-primitif, yang biasa juga disebut dengan masyarakat liar (savage society) sekitar sejuta tahun lalu, menganut pola keibuan (maternal system).