Stres Picu Kepanikan Mengarah Hal Berbahaya
Fajar adhitya
Ahad, 12 Januari 2025 - 04:40 WIB
(Foto: Freepik.com)
LANGIT7.ID-Jakarta; Stres memicu respons yang membuat seseorang mengalami kepanikan ekstrem saat menghadapi situasi yang menekan.
Faktanya, stres begitu kuat sehingga dapat mengubah cara seseorang mengingat suatu peristiwa. Perubahan ini dapat menyebabkan generalisasi rasa takut bahkan pada situasi yang sebenarnya tidak mengancam.
Melansir dari The Hindustan Times, sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Cell mengungkap bagaimana stres memiliki dampak signifikan pada memori terkait ketakutan.
Para peneliti melakukan penelitian pada tikus untuk memahami bagaimana stres memengaruhi pembentukan memori. Dalam percobaan tersebut, mereka memainkan dua jenis suara berbeda.
Salah satu suara diikuti dengan kejutan listrik ringan, yang membuat suara tersebut diingat sebagai sesuatu yang menakutkan, sementara suara lainnya tidak diikuti kejutan dan dianggap aman.
Biasanya, otak mengingat kejadian ini untuk memastikan situasi yang menekan tidak terulang kembali. Namun, saat stres meningkat, otak mulai menggeneralisasi memori tersebut.
Para peneliti menemukan bahwa sistem endocannabinoid di otak membantu mengelola stres. Namun, stres berlebihan dapat mengganggu fungsi sistem ini, yang kemudian menyebabkan kebingungan dalam memori. Ketika otak terlalu terbebani oleh stres, ia tidak lagi mampu dengan jelas membedakan antara apa yang aman dan apa yang berbahaya.
Faktanya, stres begitu kuat sehingga dapat mengubah cara seseorang mengingat suatu peristiwa. Perubahan ini dapat menyebabkan generalisasi rasa takut bahkan pada situasi yang sebenarnya tidak mengancam.
Melansir dari The Hindustan Times, sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Cell mengungkap bagaimana stres memiliki dampak signifikan pada memori terkait ketakutan.
Para peneliti melakukan penelitian pada tikus untuk memahami bagaimana stres memengaruhi pembentukan memori. Dalam percobaan tersebut, mereka memainkan dua jenis suara berbeda.
Salah satu suara diikuti dengan kejutan listrik ringan, yang membuat suara tersebut diingat sebagai sesuatu yang menakutkan, sementara suara lainnya tidak diikuti kejutan dan dianggap aman.
Biasanya, otak mengingat kejadian ini untuk memastikan situasi yang menekan tidak terulang kembali. Namun, saat stres meningkat, otak mulai menggeneralisasi memori tersebut.
Para peneliti menemukan bahwa sistem endocannabinoid di otak membantu mengelola stres. Namun, stres berlebihan dapat mengganggu fungsi sistem ini, yang kemudian menyebabkan kebingungan dalam memori. Ketika otak terlalu terbebani oleh stres, ia tidak lagi mampu dengan jelas membedakan antara apa yang aman dan apa yang berbahaya.