Kisah Kiai Pekke Sosok di Balik Kawasan Ziarah Masjid Lembung, Salah Satu Bangunan Tertua di Madura
Haris budiman
Senin, 13 Januari 2025 - 08:52 WIB
Kisah di balik kawasan ziarah Masjid Lembung Sumenep. (kredit foto: sumenepkab.go.id)
LANGIT7.ID-Dalam pembahasan sosok kali ini, redaksi Langit7 akan mengisahkan figur Kiai Pekke, yang berperan besar di balik kawasan ziaran Masjid Lembung.
Masjid yang berada di Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, ini menjadi salah satu bangunan masjid tertua di Madura Timur.
Dikutip dari tulisan di website sumenepkab.go.id, masjid yang berdiri megah di dataran tinggi yang berkakikan aliran sungai Lembung ini merupakan peninggalan Kiai Pekke. Yaitu pembabat kawasan Lembung.
Kiai Pekke atau Kiai Faqih diperkirakan hidup sejak akhir paruh kedua abad 17. Beliau bersaudara dengan Nyai Nurima, ibunda Bindara Saot alias Kanjeng Raden Tumenggung Tirtonegoro, penguasa Sumenep dari dinasti terakhir.
Dinasti terakhir yang berdiri sejak 1750-1929 Masehi ini dikenal dengan kisahnya yang melegenda. Pasalnya, secara trah, Bindara Saot bukanlah seorang pangeran ataupun putra mahkota alias pewaris tahta Sumenep.
“Beliau berasal dari kalangan santri. Ayahnya, Kiai Abdullah adalah seorang ulama di Batuampar. Bindara Saot sendiri sejak kecil nyantri pada pamannya di Lembung,” kata Ja’far Shadiq, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.
Secara tradisi, isyarat terjadinya angin perubahan Sumenep sudah datang sejak paruh pertama abad 17 atau awal kurun 1600-an Masehi.
Masjid yang berada di Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, ini menjadi salah satu bangunan masjid tertua di Madura Timur.
Dikutip dari tulisan di website sumenepkab.go.id, masjid yang berdiri megah di dataran tinggi yang berkakikan aliran sungai Lembung ini merupakan peninggalan Kiai Pekke. Yaitu pembabat kawasan Lembung.
Kiai Pekke atau Kiai Faqih diperkirakan hidup sejak akhir paruh kedua abad 17. Beliau bersaudara dengan Nyai Nurima, ibunda Bindara Saot alias Kanjeng Raden Tumenggung Tirtonegoro, penguasa Sumenep dari dinasti terakhir.
Dinasti terakhir yang berdiri sejak 1750-1929 Masehi ini dikenal dengan kisahnya yang melegenda. Pasalnya, secara trah, Bindara Saot bukanlah seorang pangeran ataupun putra mahkota alias pewaris tahta Sumenep.
“Beliau berasal dari kalangan santri. Ayahnya, Kiai Abdullah adalah seorang ulama di Batuampar. Bindara Saot sendiri sejak kecil nyantri pada pamannya di Lembung,” kata Ja’far Shadiq, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.
Secara tradisi, isyarat terjadinya angin perubahan Sumenep sudah datang sejak paruh pertama abad 17 atau awal kurun 1600-an Masehi.