Wacana Beli Minyak dari Rusia, Komisi XII DPR Minta Dikaji Matang
Tim langit 7
Senin, 13 Januari 2025 - 16:49 WIB
Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKB Ratna Juwita
Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita mendukung wacana diversifikasi sumber impor minyak mentah dari Rusia. Kendati demikian wacana ini harus dikaji matang termasuk dampaknya terhadap posisi Indonesia dalam perdagangan dunia.
“Kami tentu mendukung jika ada diversifikasi sumber impor minyak Indonesia termasuk dari Rusia. Hanya saja dengan situasi global yang masih belum jelas perlu ada kajian matang termasuk apakah membeli minyak dari Rusia akan menguntungkan posisi Indonesia dalam diplomasi atau perdagangan Internasional,” ujar Ratna Juwita, Senin (13/1/2025).
Untuk diketahui wacana impor minyak mentah dari Rusia mulai mengemuka seiring masuknya Indonesia sebagai anggota penuh blok ekonomi BRICS. Ketua Dewan Ekonomi Nasional dan Penasihat Khusus Presiden urusan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut bahwa impor minyak Rusia bisa menjadi opsi strategis jika secara hitungan ekonomi memberikan manfaat bagi Indonesia. Selama ini Indonesia mengantungkan sumber impor minyak dari Nigeria dan Arab Saudi.
Baca juga:Wamenag Berangkat ke Arab Menyusul Menag Untuk Perjuangkan Ongkos Haji Murah dan Pelayan Yang Baik
Ratna mengungkapkan Indonesia selalu mengalami defisit neraca perdagangan di sektor minyak dan gas. Berdasarkan data BPS, defisit neraca perdagangan di sektor Migas tahun 2023 mencapai USD1,7 miliar. Tahun 2024 defisit neraca perdagangan Migas naik menjadi USD2,32 miliar. “Defisit ini terutama didominasi oleh pembelian minyak mentah,” katanya.
Ratna mengatakan rata-rata impor minyak mentah Indonesia mencapai 15 juta ton/tahun. Sebagian besar kebutuhan tersebut dipasok oleh negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Di antaranya Nigeria yang memasok sekitar 5,6 juta ton, Arab Saudi 4,1 juta ton, dan Azarbaijan sekitar 1 juta ton.
“Jika Rusia bisa menawarkan harga yang lebih murah tentu akan berdampak pada penekanan terhadap defisit neraca perdagangan minyak kita karena turunnya biaya impor kita,” katanya.
“Kami tentu mendukung jika ada diversifikasi sumber impor minyak Indonesia termasuk dari Rusia. Hanya saja dengan situasi global yang masih belum jelas perlu ada kajian matang termasuk apakah membeli minyak dari Rusia akan menguntungkan posisi Indonesia dalam diplomasi atau perdagangan Internasional,” ujar Ratna Juwita, Senin (13/1/2025).
Untuk diketahui wacana impor minyak mentah dari Rusia mulai mengemuka seiring masuknya Indonesia sebagai anggota penuh blok ekonomi BRICS. Ketua Dewan Ekonomi Nasional dan Penasihat Khusus Presiden urusan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut bahwa impor minyak Rusia bisa menjadi opsi strategis jika secara hitungan ekonomi memberikan manfaat bagi Indonesia. Selama ini Indonesia mengantungkan sumber impor minyak dari Nigeria dan Arab Saudi.
Baca juga:Wamenag Berangkat ke Arab Menyusul Menag Untuk Perjuangkan Ongkos Haji Murah dan Pelayan Yang Baik
Ratna mengungkapkan Indonesia selalu mengalami defisit neraca perdagangan di sektor minyak dan gas. Berdasarkan data BPS, defisit neraca perdagangan di sektor Migas tahun 2023 mencapai USD1,7 miliar. Tahun 2024 defisit neraca perdagangan Migas naik menjadi USD2,32 miliar. “Defisit ini terutama didominasi oleh pembelian minyak mentah,” katanya.
Ratna mengatakan rata-rata impor minyak mentah Indonesia mencapai 15 juta ton/tahun. Sebagian besar kebutuhan tersebut dipasok oleh negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Di antaranya Nigeria yang memasok sekitar 5,6 juta ton, Arab Saudi 4,1 juta ton, dan Azarbaijan sekitar 1 juta ton.
“Jika Rusia bisa menawarkan harga yang lebih murah tentu akan berdampak pada penekanan terhadap defisit neraca perdagangan minyak kita karena turunnya biaya impor kita,” katanya.