Prof Nurmandi dan Keberpihakan Rektor Baru UMY
Tim langit 7
Jum'at, 17 Januari 2025 - 09:00 WIB
Prof Nurmandi dan Keberpihakan Rektor Baru UMY
LANGIT7.ID-Yogyakarta;Ballroom Dormitory UMY, Senin 30Desember 2024. Ratusan hadirin memenuhi ruang baru yang nyaman dan megah ini. Di deretan kursi depan duduk tamu penting: Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Ketua Umum PP Aisyiah. Di samping mereka nampak beberapa petinggi Muhammadiyah lainnya. Juga beberapa rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisiyah (PTMA), BPH, dan para pimpinan UMY. Mulai dari wakil Rektor, Dekan, sampai pimpinan Prodi. Juga hadir Koordinator LL Dikti Wilayah V DIY. Tentu juga hadir Rektor dan calon Rektor UMY. Agenda hari ini adalah pelantikan Rektor UMY Periode 2024-2028 dan serah terima jabatan dari rektor sebelumnya. Suasana menjadi hening ketika qari membacakan ayat terkait jabatan atau amanah. Ayat yang berisi sindiran keras terhadap penerima amanah: Q.S. Al-Ahzab: 72 dan Al-Anfal: 27.
Proses pemilihan Rektor UMY sudah dimulai sejak Agustus 2024. Pemilihan oleh Senat UMY berlangsung pada 17 September 2024. Tentang ini aku sudah tuliskan dalam “BAKAL CALON REKTOR UMY Menyongsong Pemimpin Baru Tanpa Gejolak.” PP Muhammadiyah kemudian menetapkan salah satu dari tiga suara terbanyak yaitu Profesor Achmad Nurmadi menjadi Rektor UMY periode 2024-2028. Nah, pada 28 Desember ini serah terima dari rektor lama ke rektor baru UMY dilaksanakan. SK PP Muhammadiyah tentang rektor baru ini dibacakan Prof Ihsan selaku Sekretaris Senat UMY. Dilengkapi pantun, “Pagi cerah langit berawan/membawa damai di hati kita/terima kasih Profesor Gunawan/atas darma baktimu yang luar biasa. Hujan turun membasahi bumi/membawa berkah tiada henti. Profesor Nurmandi rektor kini/semoga amanah mengemban tugas suci."
Sambutan pertama disampaikan Profesor Gunawan Budiyanto. Rektor UMY 2016-2020 dan 2020-2024 ini mengucapkan terima kasih terutama kepada PP Muhammadiyah yang telah memberi amanah mengembangkan UMY selama dua periode. Pak Gun lalu bercerita dulu di UMY ada istilah politbiro atau gerombolan. Pesertanya Gunawan, Nurmandi, dan Mukti Fajar. Awal 2012 Pak Gun dipanggil Pak Dasron rektor dan tokoh UMY saat itu. Pak Dasron meminta Pak Gun menyiapkan borang AIPT. Maka Pak Gun melengkapi anggota gerombolan menjadi delapan orang. Berbagai RKT UMY sebelumnya seakan hanya mengisi daftar mimpi. Gerombolan ini lalu bekerja lebih keras dan lebih sistimatis. Penataan UMY dimulai dari tingkat Prodi. Dengan perjuangan berat akhirnya UMY menjadi perguruan tinggi nasional ke delapan yang mendapat akreditasi A.
Menurut Pak Gun salah satu titik mati PTMA adalah transparansi pengelolaan keuangan. UMY bukan perguruan tinggi kaya raya. Tetapi dengan sistem keuangan yang baik pimpinan menjadi tahu persis apa yang bisa dan apa yang akan dikerjakan. Bisa diketahui keluar masuk uang setiap hari. Maka UMY juga 5 tahun berturut-turut memperoleh predikat WTP dari Kantor Akuntan Publik. Tantangan lainnya adalah pajak. Sistem pengelolaan keuangan sebelumnya menyebabkan koreksi pajak tinggi. Dengan perbaikan pengelolaan sistem keuangan maka koreksi pajak UMY per tahun turun dari 60 M menjadi sekitar 8 M saja. Untuk ini Pak Gun berterima kasih kepada sejawat wakil rektor, khususnya Prof Suryo Pratolo yang telah meletakkan dasar-dasar transparansi sistem keuangan di UMY.
Selanjutnya Prof. Achmad Nurmadi menyatakan baginya suatu kehormatan dipercaya PP Muhammadiyah menjadi Rektor UMY periode 2024-2028. Menurut Pak Nur pada 1981 dan sebelumnya pendiri UMY yang sebagian besar alumni muallimin berimajinasi membuat universitas di ibukota Muhammadiyah. Imajinasi itu telah 43 tahun sekarang. Saat itu tentu tidak terbayangkan bahwa UMY bisa seperti sekarang ini. Pak Nur mengaku sebagai generasi kedua yang masuk UMY. Sedangkan Pak Gun adalah generasi pertama. Ketika itu UMY belum dikenal. Sehingga diplesetkan menjadi Universitas Mana Ya. Imajinasi para pendiri itu harus dilanjutkan oleh generasi penerus. Termasuk Pak Gun dan Pak Nurmadi. Lanjut Pak Nur, “sekarang kita masuk Top Ten di Indonesia. Untuk PTS kita tiga besar. Tentu imajinasi itu dinamis. Itulah tugas saya dan jajaran pimpinan nanti.”
Kini PTS berhadapan dengan regulasi yang sangat dinamis. Regulasi yang berubah dari rezim ke rezim. Pada sisi lain sejak dua puluh lima tahun lalu pengamat pendidikan sudah mengatakan PTN di Indonesia ini neo liberal. Tidak seperti di Korea dimana PTN menjadi partner PTS. Maka pada acara hari ini juga diundang para legislator dan DPD yang mewakili DIY. Mereka menjadi tempat berkeluh kesah karena regulasi yang memberatkan itu. UMY sendiri kini, menurut Prof Setyabudi Koordinator LL Dikti DIY, satu dari dari 9 PTS di DIY yang terakreditasi Unggul. UMY memiliki 24 Prodi terakreditasi internasional dan memiliki 47 Guru Besar. Ini paling banyak di antara PTS se DIY. Lanjut Prof Budi, “tantangan global pengelolaan PT makin kompleks. Tetapi dengan pengalaman akademik dan struktural Pak Nurmandi akan mampu memimpin UMY terus berkembang.”
Proses pemilihan Rektor UMY sudah dimulai sejak Agustus 2024. Pemilihan oleh Senat UMY berlangsung pada 17 September 2024. Tentang ini aku sudah tuliskan dalam “BAKAL CALON REKTOR UMY Menyongsong Pemimpin Baru Tanpa Gejolak.” PP Muhammadiyah kemudian menetapkan salah satu dari tiga suara terbanyak yaitu Profesor Achmad Nurmadi menjadi Rektor UMY periode 2024-2028. Nah, pada 28 Desember ini serah terima dari rektor lama ke rektor baru UMY dilaksanakan. SK PP Muhammadiyah tentang rektor baru ini dibacakan Prof Ihsan selaku Sekretaris Senat UMY. Dilengkapi pantun, “Pagi cerah langit berawan/membawa damai di hati kita/terima kasih Profesor Gunawan/atas darma baktimu yang luar biasa. Hujan turun membasahi bumi/membawa berkah tiada henti. Profesor Nurmandi rektor kini/semoga amanah mengemban tugas suci."
Sambutan pertama disampaikan Profesor Gunawan Budiyanto. Rektor UMY 2016-2020 dan 2020-2024 ini mengucapkan terima kasih terutama kepada PP Muhammadiyah yang telah memberi amanah mengembangkan UMY selama dua periode. Pak Gun lalu bercerita dulu di UMY ada istilah politbiro atau gerombolan. Pesertanya Gunawan, Nurmandi, dan Mukti Fajar. Awal 2012 Pak Gun dipanggil Pak Dasron rektor dan tokoh UMY saat itu. Pak Dasron meminta Pak Gun menyiapkan borang AIPT. Maka Pak Gun melengkapi anggota gerombolan menjadi delapan orang. Berbagai RKT UMY sebelumnya seakan hanya mengisi daftar mimpi. Gerombolan ini lalu bekerja lebih keras dan lebih sistimatis. Penataan UMY dimulai dari tingkat Prodi. Dengan perjuangan berat akhirnya UMY menjadi perguruan tinggi nasional ke delapan yang mendapat akreditasi A.
Menurut Pak Gun salah satu titik mati PTMA adalah transparansi pengelolaan keuangan. UMY bukan perguruan tinggi kaya raya. Tetapi dengan sistem keuangan yang baik pimpinan menjadi tahu persis apa yang bisa dan apa yang akan dikerjakan. Bisa diketahui keluar masuk uang setiap hari. Maka UMY juga 5 tahun berturut-turut memperoleh predikat WTP dari Kantor Akuntan Publik. Tantangan lainnya adalah pajak. Sistem pengelolaan keuangan sebelumnya menyebabkan koreksi pajak tinggi. Dengan perbaikan pengelolaan sistem keuangan maka koreksi pajak UMY per tahun turun dari 60 M menjadi sekitar 8 M saja. Untuk ini Pak Gun berterima kasih kepada sejawat wakil rektor, khususnya Prof Suryo Pratolo yang telah meletakkan dasar-dasar transparansi sistem keuangan di UMY.
Selanjutnya Prof. Achmad Nurmadi menyatakan baginya suatu kehormatan dipercaya PP Muhammadiyah menjadi Rektor UMY periode 2024-2028. Menurut Pak Nur pada 1981 dan sebelumnya pendiri UMY yang sebagian besar alumni muallimin berimajinasi membuat universitas di ibukota Muhammadiyah. Imajinasi itu telah 43 tahun sekarang. Saat itu tentu tidak terbayangkan bahwa UMY bisa seperti sekarang ini. Pak Nur mengaku sebagai generasi kedua yang masuk UMY. Sedangkan Pak Gun adalah generasi pertama. Ketika itu UMY belum dikenal. Sehingga diplesetkan menjadi Universitas Mana Ya. Imajinasi para pendiri itu harus dilanjutkan oleh generasi penerus. Termasuk Pak Gun dan Pak Nurmadi. Lanjut Pak Nur, “sekarang kita masuk Top Ten di Indonesia. Untuk PTS kita tiga besar. Tentu imajinasi itu dinamis. Itulah tugas saya dan jajaran pimpinan nanti.”
Kini PTS berhadapan dengan regulasi yang sangat dinamis. Regulasi yang berubah dari rezim ke rezim. Pada sisi lain sejak dua puluh lima tahun lalu pengamat pendidikan sudah mengatakan PTN di Indonesia ini neo liberal. Tidak seperti di Korea dimana PTN menjadi partner PTS. Maka pada acara hari ini juga diundang para legislator dan DPD yang mewakili DIY. Mereka menjadi tempat berkeluh kesah karena regulasi yang memberatkan itu. UMY sendiri kini, menurut Prof Setyabudi Koordinator LL Dikti DIY, satu dari dari 9 PTS di DIY yang terakreditasi Unggul. UMY memiliki 24 Prodi terakreditasi internasional dan memiliki 47 Guru Besar. Ini paling banyak di antara PTS se DIY. Lanjut Prof Budi, “tantangan global pengelolaan PT makin kompleks. Tetapi dengan pengalaman akademik dan struktural Pak Nurmandi akan mampu memimpin UMY terus berkembang.”