Kenali Sleep Apnea, Gangguan Henti Napas Sejenak saat Tidur
Fajar adhitya
Senin, 20 Januari 2025 - 04:50 WIB
(Foto: Freepik.com)
LANGIT7.ID-Jakarta; Mendengkur saat tidur belum tentu menandakan gangguanobstructive sleep apnea(OSA). Namun seseorang patut waspada jika dengkuran tersebut terdengar keras serta diikuti henti napas sejenak.
“Mendengkur yang benar adalah bunyi nafas teratur. Mendengkur itu adalah tertutupnya sebagian jalan napas. Sedangkansleep apneatertutupnya total jalan napas selama 10 detik yang kemudian diikuti dengan penurunan kadar oksigen,” ujar Konsultan Laring Faring Departemen THT-KL FKUI RSCM, Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.THT-KL (K), FICS, saat webinar.
Selain dengkuran keras dan henti napas sejenak, gejala OSA juga ditandai dengan batuk-batuk serta tersedak saat tidur. Pada anak kecil yang bernapas melalui mulut, biasanya mereka akan gelisah selama tidur karena berusaha mencari posisi yang nyaman untuk bernapas. Fauziah mengatakan bagian belakang hidung pada anak-anak terkadang ada kelenjaradenoidyang dapat mempengaruhi hambatan jalan napas. Kelenjaradenoidbiasanya akan menghilang ketika anak berusia 7 hingga 8 tahun.
“Mendengkur yang berbahaya ini ternyata seperti fenomena gunung es. Pangkalnya saja yang terlihat di permukaan laut, sepertinya sedikit padahal di bawahnya itu banyak sekali,” ujarnya.
Fauziah mengatakan OSA dapat terjadi karena jalan napas tersumbat atau terhalang oleh struktur lunak atau otot di belakang tenggorokan, seperti kelenjaradenoid,conchaatau struktur lekukan bagian dalam hidung yang membesar,uvulayang panjang, serta amandel, bahkan posisi lidah yang terjatuh ke bagian dalam saat tidur juga dapat mempengaruhi keluar masuknya udara.
Henti napas ketika tidur atau OSA dapat menyebabkan penurunan oksigen di dalam tubuh. Badan menjadi stres dan akan bereaksi, salah satunya jantung berdebar lebih cepat dan pembuluh darah menyempit. Akibatnya tekanan darah menjadi tinggi, nadi semakin cepat, volume darah yang tinggi, inflamasi dan stres.
"Jadi, bila kita melihat gejala berhenti napas pada orang tua atau keluarga kita yang terjadi ketika tidur, atau melihat orang mudah sekali mengantuk di siang hari, sebaiknya lakukan pemeriksaan danself-assessmentsehingga akan membawa pasien tersebut untuk berobat dan akan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dari kasus OSA ini," ujar Fauziah.(*)
“Mendengkur yang benar adalah bunyi nafas teratur. Mendengkur itu adalah tertutupnya sebagian jalan napas. Sedangkansleep apneatertutupnya total jalan napas selama 10 detik yang kemudian diikuti dengan penurunan kadar oksigen,” ujar Konsultan Laring Faring Departemen THT-KL FKUI RSCM, Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.THT-KL (K), FICS, saat webinar.
Selain dengkuran keras dan henti napas sejenak, gejala OSA juga ditandai dengan batuk-batuk serta tersedak saat tidur. Pada anak kecil yang bernapas melalui mulut, biasanya mereka akan gelisah selama tidur karena berusaha mencari posisi yang nyaman untuk bernapas. Fauziah mengatakan bagian belakang hidung pada anak-anak terkadang ada kelenjaradenoidyang dapat mempengaruhi hambatan jalan napas. Kelenjaradenoidbiasanya akan menghilang ketika anak berusia 7 hingga 8 tahun.
“Mendengkur yang berbahaya ini ternyata seperti fenomena gunung es. Pangkalnya saja yang terlihat di permukaan laut, sepertinya sedikit padahal di bawahnya itu banyak sekali,” ujarnya.
Fauziah mengatakan OSA dapat terjadi karena jalan napas tersumbat atau terhalang oleh struktur lunak atau otot di belakang tenggorokan, seperti kelenjaradenoid,conchaatau struktur lekukan bagian dalam hidung yang membesar,uvulayang panjang, serta amandel, bahkan posisi lidah yang terjatuh ke bagian dalam saat tidur juga dapat mempengaruhi keluar masuknya udara.
Henti napas ketika tidur atau OSA dapat menyebabkan penurunan oksigen di dalam tubuh. Badan menjadi stres dan akan bereaksi, salah satunya jantung berdebar lebih cepat dan pembuluh darah menyempit. Akibatnya tekanan darah menjadi tinggi, nadi semakin cepat, volume darah yang tinggi, inflamasi dan stres.
"Jadi, bila kita melihat gejala berhenti napas pada orang tua atau keluarga kita yang terjadi ketika tidur, atau melihat orang mudah sekali mengantuk di siang hari, sebaiknya lakukan pemeriksaan danself-assessmentsehingga akan membawa pasien tersebut untuk berobat dan akan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dari kasus OSA ini," ujar Fauziah.(*)
(lam)