Masjid Gedang Jombang, Tempat KH Hasyim Asyari Belajar Ngaji
Fajar adhitya
Selasa, 21 September 2021 - 14:50 WIB
Masjid Gedang Jombang, tempat KH Hasyim Asyari belajar mengaji. (Foto: Alif.id).
Masjid Gedang Jombang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Nahdlatul Ulama. Rumah ibadah inilah yang menjadi tempat KH Hasyim Asyari belajar ngaji.
Baitullah ini terletak di Dusun Gedang, Desa Tembakrejo. Masjid Gedang Jombang didirikan oleh KH Abdus Salam, ulama sekaligus pendekar dari Pasukan Pangeran Diponegoro.
Kiai Abdus Salam dikenal sebagai Mbah Shoichah. Sebelum membangun Masjid Gendang Jombang, dia datang ke dusun permukiman warga yang dulunya hutan belantara.
Menurut silsilah, beliau termasuk keturunan Raja Brawijaya (kerajaan Majapahit) dengan garis keturunan Abdus Salam bin Abdul Jabbar bin Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Abdurrohman (Jaka Tingkir).
Mengutip PP Bahrul Ulum, Mbah Shoichah 13 tahun bergelut dengan semak belukar dan kemudian dijadikan perkampungan yang dihuni oleh sekelompok orang.
Setelah berhasil mengubah hutan menjadi perkampungan, mulailah ia membuat gubuk tempat berdakwah yaitu sebuah langgar dan menjadi pesantren kecil.
Pondok tersebut dikenal masyarakat dengan sebutan Pondok Selawe atau Telu, dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang dan jumlah bangunan yang hanya terdiri tiga lokal beserta mushallanya.
Baitullah ini terletak di Dusun Gedang, Desa Tembakrejo. Masjid Gedang Jombang didirikan oleh KH Abdus Salam, ulama sekaligus pendekar dari Pasukan Pangeran Diponegoro.
Kiai Abdus Salam dikenal sebagai Mbah Shoichah. Sebelum membangun Masjid Gendang Jombang, dia datang ke dusun permukiman warga yang dulunya hutan belantara.
Menurut silsilah, beliau termasuk keturunan Raja Brawijaya (kerajaan Majapahit) dengan garis keturunan Abdus Salam bin Abdul Jabbar bin Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Abdurrohman (Jaka Tingkir).
Mengutip PP Bahrul Ulum, Mbah Shoichah 13 tahun bergelut dengan semak belukar dan kemudian dijadikan perkampungan yang dihuni oleh sekelompok orang.
Setelah berhasil mengubah hutan menjadi perkampungan, mulailah ia membuat gubuk tempat berdakwah yaitu sebuah langgar dan menjadi pesantren kecil.
Pondok tersebut dikenal masyarakat dengan sebutan Pondok Selawe atau Telu, dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang dan jumlah bangunan yang hanya terdiri tiga lokal beserta mushallanya.