NURAINI Bali dan Bangkit Kembali
Tim langit 7
Senin, 27 Januari 2025 - 19:44 WIB
NURAINI Bali dan Bangkit Kembali
Dr.Mahli Zainuddin Tago
LANGIT7.ID-Bali; Ujung Jalan KHA Dahlan Jogja Jumat, 24 Januari 2025. Mendung tebal bergelayut di sebagian besar langit Jogja. Pukul 13.45 bis pariwisata yang kami tumpangi mulai bergerak. Diringi gerimis kami memulai perjalanan jauh yang kalau lancar akan memakan waktu 16 jam. Tetapi mendung tebal dan gerimis musim hujan tidak mengurangi kegembiraan kami. Kami empat puluh empat pengurus, guru, dan karyawan PAUD Aisiyah NURAINI Jogja menuju Bali. Ini adalah perjalanan penuh bahagia. Maka juga ikut bergabung beberapa anggota keluarga. Tentang NURAINI aku bercerita kali ini. Tentang sebuah lembaga PAUD yang lahir dan tumbuh di tingkat Ranting tetapi berhasil menjadi lembaga unggulan di level nasional. Lembaga PAUD yang berhasil bertahan dan kembali kuat paska hantaman berat Pandemi Covid-19.
Acara rekreasi ini adalah acara tahunan. Ia merupakan bagian dari penguatan kebersamaan yang penting bagi sebuah lembaga. Diselenggarakan saat liburan panjang. Atau bila ada long weekend seperti kali ini. Untuk itu keluarga besar NURAINI pernah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan bahkan ke Jakarta. Perjalanan ini gratis bagi pimpinan, guru, dan karyawan. Sedangkan keluarga mereka membayar sepatutnya. Kali ini ikut bergabung beberapa para suami, beberapa anak, dan beberapa anggota keluarga. Dari kalangan bapak-bapak ada lima orang. Di antaranya Kang Fauzi suami Bu Isti, Pak Sami suami Bu Tutut, Mas Novel suami Mbak Wati, dan suami Bu Yanti bersama ibu dari Bu Yanti dan seorang bapak teman dari suami Bu Yanti. Sedangkan aku ikut sebagai suami Bu Kis Rahayu, pengelola NURAINI.
Ikut pula bergabung beberapa guru dari lembaga lain yang menjadi Tim Penulis buku PAUD. Mereka para guru dari beberapa TK Aisiyah di Jogja. Menariknya lagi kali ini juga bergabung Arif dan Afiqa dua alumni NURAINI. Arif anak Bu Isti-Kang Fauzi yang kini kelas tiga SMA dan Afiqa anak Bu Hajar yang kini sudah kelas enam SD. Meski dengan berbagai latar belakang suasana di dalam bis sangat cair. Apalagi ketika karaoke dimainkan. Banyak peserta ternyata memiliki bakat terpendam. Bakat yang muncul dalam suasana penuh kebersamaan. Sebagian bahkan memiliki suara emas. Dua penggemar Broery saling bertarung unjuk suara terbaik: Sami Pesolima dan Mahli Pesolima. Sedangkan Kang Fauzi yang lebih muda memilih lagu dari Kahitna yang tidak terlalu aku kenal. Beliau memang lebih muda dari aku dan Pak Sami. Walau tampak luar kami bertiga seperti sebaya saja.
Tiga peserta tambahan memiliki peran yang unik di NURAINI. Pertama, Kang Fauzi orang asli Notoprajan yang lahir dan besar dari keluarga Muhammadiyah. Maka sejak dari muda beliau sudah menjadi aktivis. Kini beliau fungsionaris LRB PWM DIY dan LPCR PDM Sleman. Pengalamannya yang luas banyak membantu urusan eksternal NURAINI. Khususnya terkait dengan perizinan. Kedua, Pak Sami yang Alumni STM jurusan bangunan. Beliau sering menjadi rekanan NURAINI terakit pembangunan fisik. Pak Sami belakangan juga sering membantu untuk pekerjaan yang sama di rumahku. Bangunan rumahku sebagaimana bangunan NURAINI adalah rumah tumbuh. Sehingga seakan tiada hari tanpa Pak Sami dan timnya bekerja. Mereka handal dan bisa mengeksekusi ide-ide dengan baik. Sehingga aku atau pengurus NURAINI tidak perlu banyak terlibat dalam penerapannya.
Ketiga, penulis cerita ini. Ketika Nuraini dirintis pada 1997 aku ketua Ranting Muhammadiyah Ngampilan. Sehingga menjadi teman diskusi ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiah (PRA) Ngampilan. Terutama ketika ada masalah eksternal di luar jangkauan Ranting. Aku diuntungkan karena ada banyak sahabat rasa kerabat di berbagai level Persyarikatan di Jogja. Mulai dari Ranting sampai Pusat. Ini ternyata sangat membantu dalam memperlancar berbagai urusan. Sebagai PAUD rintisan pada akhir 1990-an banyak tantangan dihadapi ibu-ibu ini. Di tingkat Ranting mereka sangat kompak. Tetapi pada beberapa level di atasnya beberapa pengurus tidak siap menerima perubahan. Terutama ibu-ibu yang mantan pengawas sekolah. Mereka yang sangat konservatif. Setiap perubahan dianggap sebagai tidak ada peraturannya. Sehingga banyak kreativitas menumbuhkan NURAINI tidak mudah dijalankan.
Nuraini memang tumbuh dari bawah. Pendiriannya dilatarbelakangi keprihatinan ibu-ibu atas banyaknya anak-anak usia dini yang ditinggal orang tua mereka bekerja. Anak-anak ini tumbuh bersama pembantu. Tentu dengan sentuhan pendidikan yang tidak optimal. Padahal berbagai stimulan positif sangat mereka butuhkan pada usia penting pertumbuhan. Untuk itu pada 1997 PRA Ngampilan mendirikan Taman Penitipan Anak (TPA) NURAINI. Ini sebuah ide visioner. Di Jogja saat itu baru ada satu TPA yaitu TPA Pasar Beringharjo. Ketekunan dan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak membuat lembaga ini tumbuh dan berkembang pesat. Saat berdiri pada 1997 hanya ada satu murid. Belakangan calon murid harus antri karena keterbatasan tempat. Sejak menjadi PAUD Unggulan Nasional ribuan guru PAUD dari penjuru tanah air telah magang dan belajar di NURAINI.
LANGIT7.ID-Bali; Ujung Jalan KHA Dahlan Jogja Jumat, 24 Januari 2025. Mendung tebal bergelayut di sebagian besar langit Jogja. Pukul 13.45 bis pariwisata yang kami tumpangi mulai bergerak. Diringi gerimis kami memulai perjalanan jauh yang kalau lancar akan memakan waktu 16 jam. Tetapi mendung tebal dan gerimis musim hujan tidak mengurangi kegembiraan kami. Kami empat puluh empat pengurus, guru, dan karyawan PAUD Aisiyah NURAINI Jogja menuju Bali. Ini adalah perjalanan penuh bahagia. Maka juga ikut bergabung beberapa anggota keluarga. Tentang NURAINI aku bercerita kali ini. Tentang sebuah lembaga PAUD yang lahir dan tumbuh di tingkat Ranting tetapi berhasil menjadi lembaga unggulan di level nasional. Lembaga PAUD yang berhasil bertahan dan kembali kuat paska hantaman berat Pandemi Covid-19.
Acara rekreasi ini adalah acara tahunan. Ia merupakan bagian dari penguatan kebersamaan yang penting bagi sebuah lembaga. Diselenggarakan saat liburan panjang. Atau bila ada long weekend seperti kali ini. Untuk itu keluarga besar NURAINI pernah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan bahkan ke Jakarta. Perjalanan ini gratis bagi pimpinan, guru, dan karyawan. Sedangkan keluarga mereka membayar sepatutnya. Kali ini ikut bergabung beberapa para suami, beberapa anak, dan beberapa anggota keluarga. Dari kalangan bapak-bapak ada lima orang. Di antaranya Kang Fauzi suami Bu Isti, Pak Sami suami Bu Tutut, Mas Novel suami Mbak Wati, dan suami Bu Yanti bersama ibu dari Bu Yanti dan seorang bapak teman dari suami Bu Yanti. Sedangkan aku ikut sebagai suami Bu Kis Rahayu, pengelola NURAINI.
Ikut pula bergabung beberapa guru dari lembaga lain yang menjadi Tim Penulis buku PAUD. Mereka para guru dari beberapa TK Aisiyah di Jogja. Menariknya lagi kali ini juga bergabung Arif dan Afiqa dua alumni NURAINI. Arif anak Bu Isti-Kang Fauzi yang kini kelas tiga SMA dan Afiqa anak Bu Hajar yang kini sudah kelas enam SD. Meski dengan berbagai latar belakang suasana di dalam bis sangat cair. Apalagi ketika karaoke dimainkan. Banyak peserta ternyata memiliki bakat terpendam. Bakat yang muncul dalam suasana penuh kebersamaan. Sebagian bahkan memiliki suara emas. Dua penggemar Broery saling bertarung unjuk suara terbaik: Sami Pesolima dan Mahli Pesolima. Sedangkan Kang Fauzi yang lebih muda memilih lagu dari Kahitna yang tidak terlalu aku kenal. Beliau memang lebih muda dari aku dan Pak Sami. Walau tampak luar kami bertiga seperti sebaya saja.
Tiga peserta tambahan memiliki peran yang unik di NURAINI. Pertama, Kang Fauzi orang asli Notoprajan yang lahir dan besar dari keluarga Muhammadiyah. Maka sejak dari muda beliau sudah menjadi aktivis. Kini beliau fungsionaris LRB PWM DIY dan LPCR PDM Sleman. Pengalamannya yang luas banyak membantu urusan eksternal NURAINI. Khususnya terkait dengan perizinan. Kedua, Pak Sami yang Alumni STM jurusan bangunan. Beliau sering menjadi rekanan NURAINI terakit pembangunan fisik. Pak Sami belakangan juga sering membantu untuk pekerjaan yang sama di rumahku. Bangunan rumahku sebagaimana bangunan NURAINI adalah rumah tumbuh. Sehingga seakan tiada hari tanpa Pak Sami dan timnya bekerja. Mereka handal dan bisa mengeksekusi ide-ide dengan baik. Sehingga aku atau pengurus NURAINI tidak perlu banyak terlibat dalam penerapannya.
Ketiga, penulis cerita ini. Ketika Nuraini dirintis pada 1997 aku ketua Ranting Muhammadiyah Ngampilan. Sehingga menjadi teman diskusi ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiah (PRA) Ngampilan. Terutama ketika ada masalah eksternal di luar jangkauan Ranting. Aku diuntungkan karena ada banyak sahabat rasa kerabat di berbagai level Persyarikatan di Jogja. Mulai dari Ranting sampai Pusat. Ini ternyata sangat membantu dalam memperlancar berbagai urusan. Sebagai PAUD rintisan pada akhir 1990-an banyak tantangan dihadapi ibu-ibu ini. Di tingkat Ranting mereka sangat kompak. Tetapi pada beberapa level di atasnya beberapa pengurus tidak siap menerima perubahan. Terutama ibu-ibu yang mantan pengawas sekolah. Mereka yang sangat konservatif. Setiap perubahan dianggap sebagai tidak ada peraturannya. Sehingga banyak kreativitas menumbuhkan NURAINI tidak mudah dijalankan.
Nuraini memang tumbuh dari bawah. Pendiriannya dilatarbelakangi keprihatinan ibu-ibu atas banyaknya anak-anak usia dini yang ditinggal orang tua mereka bekerja. Anak-anak ini tumbuh bersama pembantu. Tentu dengan sentuhan pendidikan yang tidak optimal. Padahal berbagai stimulan positif sangat mereka butuhkan pada usia penting pertumbuhan. Untuk itu pada 1997 PRA Ngampilan mendirikan Taman Penitipan Anak (TPA) NURAINI. Ini sebuah ide visioner. Di Jogja saat itu baru ada satu TPA yaitu TPA Pasar Beringharjo. Ketekunan dan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak membuat lembaga ini tumbuh dan berkembang pesat. Saat berdiri pada 1997 hanya ada satu murid. Belakangan calon murid harus antri karena keterbatasan tempat. Sejak menjadi PAUD Unggulan Nasional ribuan guru PAUD dari penjuru tanah air telah magang dan belajar di NURAINI.