Dr.Mahli Zainuddin Tago
LANGIT7.ID-Bali; Ujung Jalan KHA Dahlan Jogja Jumat, 24 Januari 2025. Mendung tebal bergelayut di sebagian besar langit Jogja. Pukul 13.45 bis pariwisata yang kami tumpangi mulai bergerak. Diringi gerimis kami memulai perjalanan jauh yang kalau lancar akan memakan waktu 16 jam. Tetapi mendung tebal dan gerimis musim hujan tidak mengurangi kegembiraan kami. Kami empat puluh empat pengurus, guru, dan karyawan PAUD Aisiyah NURAINI Jogja menuju Bali. Ini adalah perjalanan penuh bahagia. Maka juga ikut bergabung beberapa anggota keluarga. Tentang NURAINI aku bercerita kali ini. Tentang sebuah lembaga PAUD yang lahir dan tumbuh di tingkat Ranting tetapi berhasil menjadi lembaga unggulan di level nasional. Lembaga PAUD yang berhasil bertahan dan kembali kuat paska hantaman berat Pandemi Covid-19.
Acara rekreasi ini adalah acara tahunan. Ia merupakan bagian dari penguatan kebersamaan yang penting bagi sebuah lembaga. Diselenggarakan saat liburan panjang. Atau bila ada long weekend seperti kali ini. Untuk itu keluarga besar NURAINI pernah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan bahkan ke Jakarta. Perjalanan ini gratis bagi pimpinan, guru, dan karyawan. Sedangkan keluarga mereka membayar sepatutnya. Kali ini ikut bergabung beberapa para suami, beberapa anak, dan beberapa anggota keluarga. Dari kalangan bapak-bapak ada lima orang. Di antaranya Kang Fauzi suami Bu Isti, Pak Sami suami Bu Tutut, Mas Novel suami Mbak Wati, dan suami Bu Yanti bersama ibu dari Bu Yanti dan seorang bapak teman dari suami Bu Yanti. Sedangkan aku ikut sebagai suami Bu Kis Rahayu, pengelola NURAINI.
Ikut pula bergabung beberapa guru dari lembaga lain yang menjadi Tim Penulis buku PAUD. Mereka para guru dari beberapa TK Aisiyah di Jogja. Menariknya lagi kali ini juga bergabung Arif dan Afiqa dua alumni NURAINI. Arif anak Bu Isti-Kang Fauzi yang kini kelas tiga SMA dan Afiqa anak Bu Hajar yang kini sudah kelas enam SD. Meski dengan berbagai latar belakang suasana di dalam bis sangat cair. Apalagi ketika karaoke dimainkan. Banyak peserta ternyata memiliki bakat terpendam. Bakat yang muncul dalam suasana penuh kebersamaan. Sebagian bahkan memiliki suara emas. Dua penggemar Broery saling bertarung unjuk suara terbaik: Sami Pesolima dan Mahli Pesolima. Sedangkan Kang Fauzi yang lebih muda memilih lagu dari Kahitna yang tidak terlalu aku kenal. Beliau memang lebih muda dari aku dan Pak Sami. Walau tampak luar kami bertiga seperti sebaya saja.
Tiga peserta tambahan memiliki peran yang unik di NURAINI. Pertama, Kang Fauzi orang asli Notoprajan yang lahir dan besar dari keluarga Muhammadiyah. Maka sejak dari muda beliau sudah menjadi aktivis. Kini beliau fungsionaris LRB PWM DIY dan LPCR PDM Sleman. Pengalamannya yang luas banyak membantu urusan eksternal NURAINI. Khususnya terkait dengan perizinan. Kedua, Pak Sami yang Alumni STM jurusan bangunan. Beliau sering menjadi rekanan NURAINI terakit pembangunan fisik. Pak Sami belakangan juga sering membantu untuk pekerjaan yang sama di rumahku. Bangunan rumahku sebagaimana bangunan NURAINI adalah rumah tumbuh. Sehingga seakan tiada hari tanpa Pak Sami dan timnya bekerja. Mereka handal dan bisa mengeksekusi ide-ide dengan baik. Sehingga aku atau pengurus NURAINI tidak perlu banyak terlibat dalam penerapannya.
Ketiga, penulis cerita ini. Ketika Nuraini dirintis pada 1997 aku ketua Ranting Muhammadiyah Ngampilan. Sehingga menjadi teman diskusi ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiah (PRA) Ngampilan. Terutama ketika ada masalah eksternal di luar jangkauan Ranting. Aku diuntungkan karena ada banyak sahabat rasa kerabat di berbagai level Persyarikatan di Jogja. Mulai dari Ranting sampai Pusat. Ini ternyata sangat membantu dalam memperlancar berbagai urusan. Sebagai PAUD rintisan pada akhir 1990-an banyak tantangan dihadapi ibu-ibu ini. Di tingkat Ranting mereka sangat kompak. Tetapi pada beberapa level di atasnya beberapa pengurus tidak siap menerima perubahan. Terutama ibu-ibu yang mantan pengawas sekolah. Mereka yang sangat konservatif. Setiap perubahan dianggap sebagai tidak ada peraturannya. Sehingga banyak kreativitas menumbuhkan NURAINI tidak mudah dijalankan.
Nuraini memang tumbuh dari bawah. Pendiriannya dilatarbelakangi keprihatinan ibu-ibu atas banyaknya anak-anak usia dini yang ditinggal orang tua mereka bekerja. Anak-anak ini tumbuh bersama pembantu. Tentu dengan sentuhan pendidikan yang tidak optimal. Padahal berbagai stimulan positif sangat mereka butuhkan pada usia penting pertumbuhan. Untuk itu pada 1997 PRA Ngampilan mendirikan Taman Penitipan Anak (TPA) NURAINI. Ini sebuah ide visioner. Di Jogja saat itu baru ada satu TPA yaitu TPA Pasar Beringharjo. Ketekunan dan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak membuat lembaga ini tumbuh dan berkembang pesat. Saat berdiri pada 1997 hanya ada satu murid. Belakangan calon murid harus antri karena keterbatasan tempat. Sejak menjadi PAUD Unggulan Nasional ribuan guru PAUD dari penjuru tanah air telah magang dan belajar di NURAINI.
Lalu pada 2019 Pandemi Covid-19 menerjang. NURAINI pun mengalami masa sulit. Seluruh aktivitas berhenti. Pembelajaran untuk anak usia dini tidak bisa secara online. Sehingga tidak ada siswa baru mendaftar. Maka gaji 42 orang guru dan staf NURAINI yang semuanya pegawai yayasan turun drastis. Delapan orang akhirnya mundur teratur. Untuk tetap bertahan Nuraini menjalankan beberapa strategi dengan memanfaatkan tabungan dan melakukan banyak inovasi. Nuraini misalnya membuka Toys Library. Program ini menyewakan Alat Paraga Edukatif (APE) yang dibutuhkan anak-anak di rumah. Nuraini juga membuat Swalayan APE beserta panduan penggunaannya secar gratis. Pandun ini belakangan terbit menjadi buku panduan bermain. Maka NURAINI tetap bertahan di tengah banyak lembaga sejenis di Jogja yang terpuruk bahkan sampai kolaps.
Sekitar pukul dua dini hari bis kami memasuki Ketapang pelabuhan di ujung timur Pulau Jawa. Aku tidak asing dengan pelabuhan ini. Pada 1984 aku dibawa ke Bali oleh keluarga Ucok sahabatku sekelas SMA. Mereka selesai liburan di Jogja dan pulang ke Denpasar dimana Papi alias Maulana Nasution ayah Ucok menjadi Direktur Bali Hotel. Belakangan pada 1997 aku kembali melalui jalur ini dalam perjalanan menuju Lombok. Aku mendampingi mahasiswa UMY mengikuti MTQ Nasional di Universitas Mataram. Bersama empat mahasiswa UMY kami berangkat menuju Denpasar naik bis melalui Pelabuhan Kepatang. Dari Denpasar kami lanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Padang Bai, ke Pelabuhan Lembar, menuju Mataram. Dalam perjalanan ke Bali berikutnya aku lebih banyak naik pesawat sehingga tidak lagi bisa menikmati indahnya Selat Bali.
Tetapi Ketapang pada dinihari kali ini dalam masa long weekend. Maka antrian panjang kendaraan tidak terhindarkan. Kantuk yang tidak tertahankan membuat lamanya antri di Ketapang tidak terasa. Apalagi aku terbiasa antri di pelabuhan ketika liburan panjang. Ketika mudik ke Kerinci dengan kendaraan sendiri pada 2022 yang lalu kami antri enam jam di Pelabuhan Merak. Di Ketapang kali ini mataku mulai terbuka lebar ketika azan subuh berkumandang keras di negeri para santri Banyuwangi ini. Mas Ajik Tour Leader kami minta pertimbanganku terkait shalat shubuh. Apakah di kapal yang belum pasti berangkatnya. Atau di mushalla pelabuhan dengan resiko bisa tertinggal kapal. Kami memutuskan shalat di dalam bis dengan bertayamum. Aku lalu duduk paling depan. Lalu menjadi imam shalat shubuh berjamaah di dalam bis yang sedang menghadap ke timur. Ke arah Pulau Bali.
Tepat pukul 06.00 WIB atau pukul 07.00 WITA pada 25 Januari 2025 kapal Surya Ayla membawa kami menuju Pelabuhan Gilimanuk-Bali. Sepanjang penyeberangan suasana sangat nyaman. Langit dengan awan tipis nampak terang seiring terbitnya matahari pagi. Laut sangat bersahabat. Tidak ada gelombang yang pada musim angin sesekali menghanyutkan perahu dan kapal penumpang. Maka kami bisa menikmati pemandangan Selat Bali yang indah. Di belakang kami nampak tiga gunung berbaris gagah. Seakan menjadi tiang pancang ujung timur Pulau Jawa. Di depan kami nampak semburat matahari perlahan naik di atas Pulau Bali yang menawan. Sepulang dari Bali keluarga besar PAUD Aiyiyah NURAINI kembali segar. Tentu dengan mimpi yang lebih besar. Dengan kerja keras dan kebersamaan NURAINI siap bangkit kembali. Insya Allaah. (*Denpasar, 27 Januari 2025
Mahli Zainuddin Tago)
(lam)