Kolom Ekonomi Syariah: Menghormati Rakyat Sebagai Bagian Ekonomi Syariah
Tim langit 7
Senin, 10 Februari 2025 - 05:29 WIB
Kolom Ekonomi Syariah: Menghormati Rakyat Sebagai Bagian Ekonomi Syariah
Prof.Dr.Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-"Wahai orang beriman janganlah engkau memberi dengan menghina Q.S. 2: 262, perkataan yang baik (kehormatan) dan pemberiaan maaf lebih baik daripada sedekah (pemebrian subsidi) yang diiringi dengan menyakiti ..Q.S. 2:263".
Dalam keadaan normal antrian panjang yang tidak semestinya dilarang dalam agama dan etika, itu adalah pemberian (subsidi) yang disertai dengan penghinaan kepada rakyat kita.
Akhir akhir ini kita lihat antrian untuk membeli gas, seringkali antrian berdesakan bahkan beberapa kali menyebakan kematian untuk menerima sedekah, membeli sembako murah, dan semacam ini. Dalam pemilu kita juga menjumpai para politisi dengan tanpa malu malu membagikan sembako bahkan dengan anggaran negara yang nanti selepas pemilu menghilang begitu saja. Antrian dibenarkan dalam keadaan darurat misalnya bencana alam, pendemi, atau peperangan. Ekonomi syariah memberi petunjuk supaya dalam memberi (subsidi) yang diperlukan oleh rakyat dengan tetap menjunjung tinggi kehormatan rakyat. Mesti dilakukan dengan kecerdasan atau kebijaksanaan untuk mencipatkan sebuah sistem ekonomi dan bagian bagiannya secara bermutu. Jika kita menghormati rakyat maka negara kita akan dihormati pula sebagai negara yang bermutu tinggi. Para pejabat yang tidak sadar tidak menghormati rakyat, membuat antrian, menggusur tanpa prinsip saling untung, memagari laut dengan curang, hal hal ini satu sama lain membuat sistem negara yang tidak bermutu yang tidak lain sebenarnya menghancurkan kehormatan negara itu sendiri.
LANGIT7.ID-"Wahai orang beriman janganlah engkau memberi dengan menghina Q.S. 2: 262, perkataan yang baik (kehormatan) dan pemberiaan maaf lebih baik daripada sedekah (pemebrian subsidi) yang diiringi dengan menyakiti ..Q.S. 2:263".
Dalam keadaan normal antrian panjang yang tidak semestinya dilarang dalam agama dan etika, itu adalah pemberian (subsidi) yang disertai dengan penghinaan kepada rakyat kita.
Akhir akhir ini kita lihat antrian untuk membeli gas, seringkali antrian berdesakan bahkan beberapa kali menyebakan kematian untuk menerima sedekah, membeli sembako murah, dan semacam ini. Dalam pemilu kita juga menjumpai para politisi dengan tanpa malu malu membagikan sembako bahkan dengan anggaran negara yang nanti selepas pemilu menghilang begitu saja. Antrian dibenarkan dalam keadaan darurat misalnya bencana alam, pendemi, atau peperangan. Ekonomi syariah memberi petunjuk supaya dalam memberi (subsidi) yang diperlukan oleh rakyat dengan tetap menjunjung tinggi kehormatan rakyat. Mesti dilakukan dengan kecerdasan atau kebijaksanaan untuk mencipatkan sebuah sistem ekonomi dan bagian bagiannya secara bermutu. Jika kita menghormati rakyat maka negara kita akan dihormati pula sebagai negara yang bermutu tinggi. Para pejabat yang tidak sadar tidak menghormati rakyat, membuat antrian, menggusur tanpa prinsip saling untung, memagari laut dengan curang, hal hal ini satu sama lain membuat sistem negara yang tidak bermutu yang tidak lain sebenarnya menghancurkan kehormatan negara itu sendiri.