Hasil Studi Ungkap Pola Pernapasan Bisa Jadi Tanda Alzheimer
Fajar adhitya
Jum'at, 28 Februari 2025 - 19:52 WIB
RS Siloam Asri. Foto: Istimewa
LANGIT7.ID-Jakarta; Laju pernapasan yang lebih tinggi bisa menjadi tanda awal Alzheimer yang dapat membantu mengidentifikasi penyakit ini sebelum gejala yang lebih jelas muncul.
Mengutip dalam laporan Medical Daily, pada Rabu, penyakit Alzheimer dapat mempengaruhi kondisi yang berdampak pada memori dan fungsi kognitif. Penelitian ini membandingkan kadar oksigenasi otak, denyut jantung, gelombang otak, dan upaya pernapasan dari 19 pasien Alzheimer dengan 20 orang tanpa Alzheimer.
"Alzheimer dapat diduga terjadi akibat otak tidak mendapat nutrisi yang cukup melalui pembuluh darah (sistem vaskular)," ujar penulis utama Aneta Stefanovska.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan penyakit Alzheimer bernapas sekitar 17 kali per menit sementara kelompok kontrol memiliki laju pernapasan 13 napas per menit. Para peneliti menjelaskan bahwa neurodegenerasi akibat penyakit Alzheimer terkait dengan perubahan pola oksigenasi otak.
"Sistem pembuluh darah dan otak bekerja sama untuk memastikan otak menerima energi yang cukup. Faktanya, otak membutuhkan sebanyak 20 persen dari keseluruhan konsumsi energi tubuh meskipun hanya menyumbang sekitar 2 persen dari berat tubuh," kata Dr. Bernard Meglic, koordinator klinis penelitian tersebut.
Hal ini lantaran frekuensi pernapasan saat istirahat pada penderita Alzheimer secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut, temuan ini menunjukkan kemungkinan mendeteksi Alzheimer melalui teknik yang sederhana, non-invasif, dan murah.
Namun, laju pernapasan saja mungkin tidak cukup untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer, karena banyak faktor lain yang dapat memengaruhi fungsi pernapasan seseorang, para peneliti percaya penemuan mereka dapat membuka pintu ke area baru dalam deteksi dini dan penelitian masa depan.(*)
Mengutip dalam laporan Medical Daily, pada Rabu, penyakit Alzheimer dapat mempengaruhi kondisi yang berdampak pada memori dan fungsi kognitif. Penelitian ini membandingkan kadar oksigenasi otak, denyut jantung, gelombang otak, dan upaya pernapasan dari 19 pasien Alzheimer dengan 20 orang tanpa Alzheimer.
"Alzheimer dapat diduga terjadi akibat otak tidak mendapat nutrisi yang cukup melalui pembuluh darah (sistem vaskular)," ujar penulis utama Aneta Stefanovska.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan penyakit Alzheimer bernapas sekitar 17 kali per menit sementara kelompok kontrol memiliki laju pernapasan 13 napas per menit. Para peneliti menjelaskan bahwa neurodegenerasi akibat penyakit Alzheimer terkait dengan perubahan pola oksigenasi otak.
"Sistem pembuluh darah dan otak bekerja sama untuk memastikan otak menerima energi yang cukup. Faktanya, otak membutuhkan sebanyak 20 persen dari keseluruhan konsumsi energi tubuh meskipun hanya menyumbang sekitar 2 persen dari berat tubuh," kata Dr. Bernard Meglic, koordinator klinis penelitian tersebut.
Hal ini lantaran frekuensi pernapasan saat istirahat pada penderita Alzheimer secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut, temuan ini menunjukkan kemungkinan mendeteksi Alzheimer melalui teknik yang sederhana, non-invasif, dan murah.
Namun, laju pernapasan saja mungkin tidak cukup untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer, karena banyak faktor lain yang dapat memengaruhi fungsi pernapasan seseorang, para peneliti percaya penemuan mereka dapat membuka pintu ke area baru dalam deteksi dini dan penelitian masa depan.(*)
(lam)