home sports

Filosofi Pembinaan Atlet ala Djarum: Kunci Kesuksesan Como 1907 di Serie A

Senin, 03 Maret 2025 - 12:49 WIB
Filosofi Pembinaan Atlet ala Djarum: Kunci Kesuksesan Como 1907 di Serie A
LANGIT7.ID-Jakarta;Butuh hampir lima dekade bagi filosofi pembinaan atlet milik keluarga Hartono untuk merambah ke dunia sepak bola Eropa. Berawal dari PB Djarum yang didirikan tahun 1974—cikal bakalnya sendiri bermula dari sebuah fasilitas sederhana untuk latihan bulu tangkis di kompleks pabrik pada 1969—hingga kini metode serupa diterapkan untuk menghidupkan kembali klub Como 1907 yang pernah terpuruk di divisi keempat Liga Italia.

Apa yang membuat metode pembinaan ini berhasil? Kuncinya adalah kesabaran dan visi jangka panjang. "Ini adalah proyek berkelanjutan, bukan pencarian kesuksesan instan," terang Mirwan Suwarso, CEO Mola TV yang juga menjadi perwakilan pemilik Como.

Filosofi ini bukan sekadar kata-kata indah, melainkan strategi yang telah terbukti dengan lahirnya atlet-atlet bulu tangkis kelas dunia dari PB Djarum selama puluhan tahun.

Akuisisi Como seharga 800 ribu euro oleh konglomerat Indonesia mungkin terlihat seperti investasi kecil bagi grup yang kekayaannya mencapai 50,3 miliar dolar AS. Namun di balik angka tersebut, terselip ambisi besar: mentransplantasi keberhasilan pembinaan olahraga dari Indonesia ke jantung sepak bola Italia.

Transformasi Como dalam lima tahun terakhir memang luar biasa. Dari klub yang nyaris dilupakan di Serie D, kini mereka kembali ke Serie A setelah absen 21 tahun dan mulai menarik perhatian dengan mengalahkan klub-klub besar seperti Fiorentina (2-0) dan Napoli (2-1) dalam waktu berdekatan.

Grup Djarum menerapkan pendekatan yang berbeda dari pemilik klub pada umumnya. Mereka tidak hanya menyuntikkan dana besar—seperti terlihat dari investasi 40 juta pound untuk delapan pemain baru pada Januari 2025—tetapi juga membangun struktur klub yang solid dan berkelanjutan, meniru model sukses seperti yang diterapkan Atalanta dengan akademi pemain mudanya.

Kolaborasi dengan legenda sepak bola seperti Thierry Henry dan Cesc Fabregas menunjukkan bahwa Como tidak hanya membeli nama besar, tapi juga pengetahuan dan pengalaman. Strategi ini mirip dengan program Garuda Select yang juga didukung oleh grup yang sama untuk pengembangan bakat muda Indonesia.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya