Penderita GERD Tetap Aman dan Nyaman Berpuasa, Perhatikan Tips Berikut
Tim langit 7
Rabu, 05 Maret 2025 - 18:02 WIB
ilustrasi
Puasa Ramadhan wajib hukumnya bagi umat Islam, termasuk penderita Gastroesophageal Reflux (GER). Puasa ini menjadi tantangan bagi penderita GERD karena kondisi kenaikan asam lambung ke kerongkongan yang mengakibatkan sensasi terbakar di dada (heartburn) dan gangguan pencernaan lain.
GER dapat menyebabkan perubahan gejala menjadi sebuah penyakit jika tidak tertangani baik sehingga disebut Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Hal tersebut ditandai dengan penurunan berat badan hingga anemia. Penting bagi penderita mengatur pola makan dan gaya hidup selama berpuasa Ramadhan.
Menurut dosen Kedokteran FIKKIA UNAIR, dr Kurnia Alisaputri SpPD, proses GERD berawal dari refluks asam lambung ke kerongkongan yang terjadi secara sporadis bernama Gastroesophageal Reflux (GER).
Kondisi tersebut dapat terjadi oleh siapa saja. Jika terjadi secara terus-menerus dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan berkembang menjadi GERD. Penderita GERD tetap aman menjalankan ibadah puasa, namun tetap berhati-hati agar tidak memicu gejala selama berpuasa.
“Berpuasa membantu menormalkan hormon stres seperti kortisol yang dapat meningkatkan asam lambung. Sekaligus peningkatan hormon endorfin dan serotonin berkontribusi dalam keseimbangan sistem pencernaan,” katanya.
Jaga Istirahat dan Pola Makan Selama Berpuasa
Ahli penyakit dalam itu menuturkan berpuasa secara pasti merubah pola hidup baik konsumsi hingga istirahat. Dengan menjaga ketercukupan energi selama berpuasa dapat membantu penderita GERD mengontrol stres agar tidak memicu gejala. Mereka dapat menunda waktu sahur hingga menjelang imsak untuk membantu tubuh mempertahankan energi lebih lama.
GER dapat menyebabkan perubahan gejala menjadi sebuah penyakit jika tidak tertangani baik sehingga disebut Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Hal tersebut ditandai dengan penurunan berat badan hingga anemia. Penting bagi penderita mengatur pola makan dan gaya hidup selama berpuasa Ramadhan.
Menurut dosen Kedokteran FIKKIA UNAIR, dr Kurnia Alisaputri SpPD, proses GERD berawal dari refluks asam lambung ke kerongkongan yang terjadi secara sporadis bernama Gastroesophageal Reflux (GER).
Kondisi tersebut dapat terjadi oleh siapa saja. Jika terjadi secara terus-menerus dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan berkembang menjadi GERD. Penderita GERD tetap aman menjalankan ibadah puasa, namun tetap berhati-hati agar tidak memicu gejala selama berpuasa.
“Berpuasa membantu menormalkan hormon stres seperti kortisol yang dapat meningkatkan asam lambung. Sekaligus peningkatan hormon endorfin dan serotonin berkontribusi dalam keseimbangan sistem pencernaan,” katanya.
Jaga Istirahat dan Pola Makan Selama Berpuasa
Ahli penyakit dalam itu menuturkan berpuasa secara pasti merubah pola hidup baik konsumsi hingga istirahat. Dengan menjaga ketercukupan energi selama berpuasa dapat membantu penderita GERD mengontrol stres agar tidak memicu gejala. Mereka dapat menunda waktu sahur hingga menjelang imsak untuk membantu tubuh mempertahankan energi lebih lama.