Kajian Ramadhan: Tak Ada Sekat Ilmu Agama dan Sains, Doa Jadi Kekuatan Nyata
Tim langit 7
Kamis, 06 Maret 2025 - 11:02 WIB
Dr Soegiantono mengisi kajian terkait peran sains dan teknologi dalam memperkuat keimanan di Masjid Ulul Azmi.Foto/dok Unair
Sains dan teknologi memiliki peran besar dalam memperkuat keimanan agama Islam. Sejak zaman renaisans yang menjadi awal kebangkitan bangsa Eropa, ilmu sains seolah-olah dipisahkan dengan ilmu agama.
Fenomena itu disebut sebagai sekularisme, yang masih eksis hingga kini. “Jika kita melihat disertasi-disertasi sekarang, paling kita menjumpai Al Quran dan Hadist dipakai sebagai pemanis doang di kata pengantar,” kata Dr Soegiantono Soelistiono IR M Si saat mengisi Kajian Rutin Masjid Ulul Azmi Universitas Airlangga (Unair).
Menurutnya, fenomena sekularisme melemahkan umat manusia. Artinya, jika manusia tidak mampu menyatukan keilmuan dan agama maka tidak akan lagi ditemukan seorang ulama yang sekaligus merupakan seorang ilmuwan.
“Padahal di zaman kejayaan Islam, kalau kita mengenal Al Jabr dan Al Kindi, itu adalah ulama-ulama yang juga seorang ilmuwan,” tegas dosen Fakultas Sains dan Teknologi Unair dilansir dari laman Unair.
Baca juga:Kembangkan Potensi UMKM, Pusat Halal Unair Gelar Bazar Ramadhan
Dr Soegiantono mengajak mahasiswa untuk membuang sekat antara ilmu agama dan sains. “Jika kita ingin mendekatkan diri pada Allah, ayo digabungkan antara bagaimana keilmuan dan bagaimana proses kita mendekatkan diri kepada Allah. Yuk kita bongkar sekat ini bahwa tidak ada lagi ilmu agama, tidak ada lagi ilmu umum. Ilmu itu cuma satu,” ajaknya.
Dia juga mengatakan, seringkali logika manusia tidak meyakini kekuatan doa merupakan kekuatan yang nyata. Dr Soegiantono menyatakan, pemikiran tersebut berasal dari orang-orang sekuler.
Fenomena itu disebut sebagai sekularisme, yang masih eksis hingga kini. “Jika kita melihat disertasi-disertasi sekarang, paling kita menjumpai Al Quran dan Hadist dipakai sebagai pemanis doang di kata pengantar,” kata Dr Soegiantono Soelistiono IR M Si saat mengisi Kajian Rutin Masjid Ulul Azmi Universitas Airlangga (Unair).
Menurutnya, fenomena sekularisme melemahkan umat manusia. Artinya, jika manusia tidak mampu menyatukan keilmuan dan agama maka tidak akan lagi ditemukan seorang ulama yang sekaligus merupakan seorang ilmuwan.
“Padahal di zaman kejayaan Islam, kalau kita mengenal Al Jabr dan Al Kindi, itu adalah ulama-ulama yang juga seorang ilmuwan,” tegas dosen Fakultas Sains dan Teknologi Unair dilansir dari laman Unair.
Baca juga:Kembangkan Potensi UMKM, Pusat Halal Unair Gelar Bazar Ramadhan
Dr Soegiantono mengajak mahasiswa untuk membuang sekat antara ilmu agama dan sains. “Jika kita ingin mendekatkan diri pada Allah, ayo digabungkan antara bagaimana keilmuan dan bagaimana proses kita mendekatkan diri kepada Allah. Yuk kita bongkar sekat ini bahwa tidak ada lagi ilmu agama, tidak ada lagi ilmu umum. Ilmu itu cuma satu,” ajaknya.
Dia juga mengatakan, seringkali logika manusia tidak meyakini kekuatan doa merupakan kekuatan yang nyata. Dr Soegiantono menyatakan, pemikiran tersebut berasal dari orang-orang sekuler.