Kolom Ngabuburit Senja: Hoaks, The Silent Killer
Tim langit 7
Sabtu, 15 Maret 2025 - 16:55 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Hoaks, The Silent Killer
LANGIT7.ID-Sekitar tahun 627, Kota Madinah geger. Kasak-kasak berseliweran. Para penggosip asyik memanjang-manjangkan mulutnya. Mereka berbisik-bisik dan bergunjing (ghibah). Dari satu rumah berpindah ke rumah lain. Kota penuh desas-desus. Banyak orang yang kepo. Sampai seisi kota viral: Aisyah, istri Nabi Muhammad, telah berselingkuh. Penduduk Madinah saling lirik.
Benarkah kabar itu? Aisyah mengkhianati nabi? Pantaskah istri nabi berbuat munkar? Kabar telah menyebar bak anak panah dilepaskan dari busurnya. Menusuk begitu tajam, menembus jantung.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Agama, Sumber Kedamaian atau Konflik?
Ketika kabar itu menyebar, Aisyah sedang sakit. Barangkali kelelahan seusai mendampingi nabi ke medan perang menghadapi Bani Musthaliq, yang menggerakkan suku-suku Arab untuk melawan nabi. Kira-kira sebulan lamanya Aisyah terbaring sakit. Tak keluar rumah sehingga terputus dari kabar yang beredar di tetangga. Ia baru tahu belakangan gosip tentang dirinya itu. Pantas, Aisyah pun merasa nabi agak beda. “Saya merasakan sewaktu saya sakit, saya tiada melihat kesayangan nabi sebagaimana biasa saya lihat kalau saya sakit. Hanya waktu beliau masuk, beliau memberi salam kemudian bertanya, bagaimana keadaanmu?” kata Aisyah (HR. Bukhari 1238).
Gosip perselingkuhan Aisyah tersebar saat kaum Muslim baru pulang dari medan perang tersebut. Dalam perjalanan, ketika kaum pria menunggangi atau menuntun unta, kaum perempuan ditempatkan di dalam tandu-tandu (sekedup) di atas punuk unta. Di sebuah tempat pemberhentian mendekati Madinah, setelah beristirahat Aisyah bergegas kembali ke tandu untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi baru disadari, kalung yang melingkar di lehernya tidak ada. Padahal rombongan sudah siap-siap berangkat.
Baca juga:Kolom Ngabuburit Senja: Pendamai Konflik, Pembangun Masyarakat Baru
Buru-buru Aisyah balik ke rute langkah yang dilewatinya tadi. Ia mencari-cari kalungnya. Beruntung, kalung ditemukan. Cepat-cepat pula ia kembali ke rombongannya. Sayangnya, rombongan sudah bergerak. Rupanya pembawa unta mengira Aisyah sudah berada di dalam tandunya. Aisyah pun memanggil-manggil tapi tak ada yang mendengar. Berusaha mengejar tapi malah kelelahan. Terduduk dan terkantuk-kantuk sampai Aisyah tertidur di tepi jalan.
Benarkah kabar itu? Aisyah mengkhianati nabi? Pantaskah istri nabi berbuat munkar? Kabar telah menyebar bak anak panah dilepaskan dari busurnya. Menusuk begitu tajam, menembus jantung.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Agama, Sumber Kedamaian atau Konflik?
Ketika kabar itu menyebar, Aisyah sedang sakit. Barangkali kelelahan seusai mendampingi nabi ke medan perang menghadapi Bani Musthaliq, yang menggerakkan suku-suku Arab untuk melawan nabi. Kira-kira sebulan lamanya Aisyah terbaring sakit. Tak keluar rumah sehingga terputus dari kabar yang beredar di tetangga. Ia baru tahu belakangan gosip tentang dirinya itu. Pantas, Aisyah pun merasa nabi agak beda. “Saya merasakan sewaktu saya sakit, saya tiada melihat kesayangan nabi sebagaimana biasa saya lihat kalau saya sakit. Hanya waktu beliau masuk, beliau memberi salam kemudian bertanya, bagaimana keadaanmu?” kata Aisyah (HR. Bukhari 1238).
Gosip perselingkuhan Aisyah tersebar saat kaum Muslim baru pulang dari medan perang tersebut. Dalam perjalanan, ketika kaum pria menunggangi atau menuntun unta, kaum perempuan ditempatkan di dalam tandu-tandu (sekedup) di atas punuk unta. Di sebuah tempat pemberhentian mendekati Madinah, setelah beristirahat Aisyah bergegas kembali ke tandu untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi baru disadari, kalung yang melingkar di lehernya tidak ada. Padahal rombongan sudah siap-siap berangkat.
Baca juga:Kolom Ngabuburit Senja: Pendamai Konflik, Pembangun Masyarakat Baru
Buru-buru Aisyah balik ke rute langkah yang dilewatinya tadi. Ia mencari-cari kalungnya. Beruntung, kalung ditemukan. Cepat-cepat pula ia kembali ke rombongannya. Sayangnya, rombongan sudah bergerak. Rupanya pembawa unta mengira Aisyah sudah berada di dalam tandunya. Aisyah pun memanggil-manggil tapi tak ada yang mendengar. Berusaha mengejar tapi malah kelelahan. Terduduk dan terkantuk-kantuk sampai Aisyah tertidur di tepi jalan.