home masjid

Kolom Ngabuburit Senja: Getol Beribadah Tapi Doyan Korupsi

Ahad, 16 Maret 2025 - 17:31 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Getol Beribadah Tapi Doyan Korupsi
LANGIT7.ID-Dalam sebuah obrolan ngalor-ngidul, ada pertanyaan yang bikin terhenyak: mengapa di ruang sidang banyak terdakwa korupsi berpenampilan necis mengenakan baju koko, kopiah, atau kupluk haji? Ini pertanyaan menohok, tapi sekaligus introspektif. Iya, kira-kira apa maksud dari fenomena di ruang sidang itu? Mengapa muncul simbol-simbol agama? Apakah ingin dikesankan bahwa terdakwa sangat religius? Atau, maksudnya si terdakwa ingin bertobat? Sejenak kami terdiam.



Korupsi bertentangan dengan ajaran agama. Berasal dari bahasa Latin, corruptioatau corruptus, dengan arti beragam: busuk, buruk, bejat, tidak jujur, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, dapat merusak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), bermakna penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Korupsi sama saja dengan mencuri, maling, garong, menggelapkan, dan sejenisnya.

Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Hoaks, The Silent Killer

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui (QS. Al-Baqarah: 188).

Kita buka lagi lembaran sejarah pada masa Nabi Muhammad. Sekitar tahun 9 Hijriyah (631), nabi mengangkat seorang pejabat untuk mengurus zakat Bani Sulaim, sebuah kabilah yang kampungnya terletak di jalur perdagangan Madinah menuju Syam. Nama pejabat itu Abdullah bin Al-Lutbiyyah. Seusai menjalankan tugas, Abdullah menghadap nabi, menyerahkan zakat yang dikumpulkan. “Wahai Rasulullah ini untukmu dan yang ini hadiah yang diberikan orang kepadaku,” kata Abdullah kepada Rasulullah. Hadiah adalah bentuk gratifikasi.

Baca juga:Kolom Ngabuburit Senja: Agama, Sumber Kedamaian atau Konflik?
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya