Kolom Ngabuburit Senja: Taat Ibadah Ritual, Abai Ibadah Sosial
Tim langit 7
Selasa, 18 Maret 2025 - 17:18 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Taat Ibadah Ritual, Abai Ibadah Sosial
LANGIT7.ID-Sambil menikmati teh panas di bawah guyuran hujan, semalam, saya membaca buku Mausu’ah Al-Huquq Al-Islamiyahkarya Syekh Sa’ad Yusuf Mahmud Abu Aziz yang ditulis di Gharmin, Manufiah, Mesir, tahun 2000/1421 H. Buku yang terjemahannya berjudul Semua Ada Haknyaoleh Ali Nurdin itu sangat tebal: 804 halaman isi plus 24 (xxiv) halaman bagian awal meliputi halaman pengantar dan daftar isi. Dikemas hardcoverdengan ukuran buku Unesco (15,5 cm x 24 cm). Memang kurang praktis, apalagi di zaman sekarang orang lebih khusyuk membaca di gawai ketimbang buku.
Setelah melewati halaman 170, sejenak berhenti ketika membaca riwayat yang diceritakan Abu Hurairah. Ada seorang laki-laki berkata kepada nabi: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan salat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Apa komentar nabi? Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Menemukan Tuhan di Jalanan
Dahi agak berkernyit. Terhenyak sebentar. Lalu melanjutkan membaca. Para sahabat berkata lagi: “Fulanah (perempuan lainnya hanya) mengerjakan salat wajib, dan bersedekah dengan beberapa potong keju, tapi tidak (pernah) menyakiti seorang pun.” Untuk kasus ini, Rasulullah berkata: “Dia adalah penghuni surga.” Riwayat yang perawinya Imam Ahmad, juga Imam Bukhari, dan lainnya itu membuat hati bertanya-tanya, mengapa orang yang taat beribadah malah masuk neraka? Bukankah orang berlomba-lomba beribadah karena mengidamkan surga?
Pernah pula membaca riwayat ketika seorang sahabat memuji kesalehan orang lain di hadapan nabi. “Mengapa ia kau sebut sangat saleh?” tanya nabi. Sahabat pun menjawab, “Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa.” Nabi bertanya, “Lalu siapa yang memberinya makan dan minum?” “Kakaknya,” kata sahabat tersebut. Nabi pun mengatakan, “Kakaknya itulah yang layak disebut saleh.” Sahabat itu pun terdiam.
Setelah melewati halaman 170, sejenak berhenti ketika membaca riwayat yang diceritakan Abu Hurairah. Ada seorang laki-laki berkata kepada nabi: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan salat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Apa komentar nabi? Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Menemukan Tuhan di Jalanan
Dahi agak berkernyit. Terhenyak sebentar. Lalu melanjutkan membaca. Para sahabat berkata lagi: “Fulanah (perempuan lainnya hanya) mengerjakan salat wajib, dan bersedekah dengan beberapa potong keju, tapi tidak (pernah) menyakiti seorang pun.” Untuk kasus ini, Rasulullah berkata: “Dia adalah penghuni surga.” Riwayat yang perawinya Imam Ahmad, juga Imam Bukhari, dan lainnya itu membuat hati bertanya-tanya, mengapa orang yang taat beribadah malah masuk neraka? Bukankah orang berlomba-lomba beribadah karena mengidamkan surga?
Pernah pula membaca riwayat ketika seorang sahabat memuji kesalehan orang lain di hadapan nabi. “Mengapa ia kau sebut sangat saleh?” tanya nabi. Sahabat pun menjawab, “Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa.” Nabi bertanya, “Lalu siapa yang memberinya makan dan minum?” “Kakaknya,” kata sahabat tersebut. Nabi pun mengatakan, “Kakaknya itulah yang layak disebut saleh.” Sahabat itu pun terdiam.