Kisah Sufi Sang Guru Jalaludin Rumi: Isa dan Para Peragu
Miftah yusufpati
Rabu, 19 Maret 2025 - 04:00 WIB
Kisah ini mengandung gagasan yang serupa dengan yang ada dalam Sorcerers Apprentice. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID--Kisah ini dinukil dari buku berjudul "Tales of The Dervishes" karya Idries Shah yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi".
Dikisahkan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lainnya bahwa pada suatu hari, Isa, putra Maryam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Yerusalem bersama-sama sejumlah orang yang hatinya masih dikuasai ketamakan.
Mereka memohon agar Isa memberitahukan kepada mereka Nama Rahasia yang dipergunakanya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, "Kalau kuberitahukan pada kalian, kalian akan menyalahgunakannya."
Kata mereka, "Kami sudah siap dan pantas untuk mendapatkan pengetahuan semacam itu; lagipula, hal itu akan menguatkan iman keyakinan kami."
Baca juga: Kisah Sufi: Air Surga dari Badui Miskin untuk Khalifah Harun al-Rasyid
"Kalian tidak tahu apa yang kalian minta," katanya, tetapi diberitahukannya juga tentang Kata itu.
Segera sesudah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang ditinggalkan dan mereka melihat setumpuk tulang yang sudah memutih. "Mari kita coba kekuatan Kata itu," kata mereka satu sama lain, dan disebutkanlah Kata itu.
Dikisahkan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lainnya bahwa pada suatu hari, Isa, putra Maryam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Yerusalem bersama-sama sejumlah orang yang hatinya masih dikuasai ketamakan.
Mereka memohon agar Isa memberitahukan kepada mereka Nama Rahasia yang dipergunakanya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, "Kalau kuberitahukan pada kalian, kalian akan menyalahgunakannya."
Kata mereka, "Kami sudah siap dan pantas untuk mendapatkan pengetahuan semacam itu; lagipula, hal itu akan menguatkan iman keyakinan kami."
Baca juga: Kisah Sufi: Air Surga dari Badui Miskin untuk Khalifah Harun al-Rasyid
"Kalian tidak tahu apa yang kalian minta," katanya, tetapi diberitahukannya juga tentang Kata itu.
Segera sesudah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang ditinggalkan dan mereka melihat setumpuk tulang yang sudah memutih. "Mari kita coba kekuatan Kata itu," kata mereka satu sama lain, dan disebutkanlah Kata itu.