Kolom Ngabuburit Senja: Bangsa-bangsa: Rasisme, Stereotipe, dan Agenda Politik
Tim langit 7
Rabu, 26 Maret 2025 - 17:31 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Bangsa-bangsa: Rasisme, Stereotipe, dan Agenda Politik
LANGIT7.ID-Ketika musim panen politik, pada siklus lima tahunan, pertarungan para politikus sangat keras. Semenjak era electoral demoracy di mana suara rakyat paling menentukan, politikus habis-habisan mengeluarkan jurus agar dapat kursi. Sungguh ironis, kampanye bukan soal elaborasi program kerja tetapi lebih marak kampanye hitam yang dilarang konstitusi. Pasal 280 UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, sudah jelas melarang “menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau peserta pemilu yang lain” atau “menghasut dan mengadu domba perseorangan atau pun masyarakat”.
Maka, panggung politik dipenuhi ekspresi kebencian terhadap lawan politik. Narasi rasis tak terkontrol lagi. Contoh paling kentara adalah narasi “asing dan aseng”, bahkan plus “asong”. Narasi itu menjadi satu frasa setarikan nafas: “asing, aseng, asong”. “Asing” mengacu semua kekuatan luar negeri yang eksploitatif, bisa mendikte dan mempengaruhi kebijakan Indonesia. Aktornya bisa lembaga non-state, semisal Bank Dunia, IMF, atau operasi intelijen negara, dan sebagainya. “Aseng” mulanya merujuk dominasi konglomerat keturunan China, tapi meluas menjadi kepentinggan negara China (RRC). “Asong” adalah pribumi yang mengasongkan Indonesia ke mana-mana. Mereka bisa siapa saja dan profesi apa saja.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Ashabiyah Modern
Sebetulnya narasi itu merupakan kritik terhadap kondisi Indonesia. Bahwa tidak ada kekuatan mana pun yang dapat menguasai Indonesia. Intinya Indonesia harus mandiri dan berdikari. Waktu kolaps tahun 1998, Indonesia dicengkeram IMF. Ingatan masih segar sebuah foto mengenaskan saat Presiden Soeharto, penguasa Orde Baru 32 tahun, menunduk menandatangani perjanjian disaksikan Michel Camdessus, Managing Director IMF, yang berdiri tegak dengan tangan bersedekap. Foto itu heboh menjadi headline di media massa.
Namun, begitu masuk siklus politik lima tahunan, narasi frasa di atas tampaknya lebih mengarah propaganda politik. Masalahnya, ketika dilepas ke massa maka interpretasinya bisa liar. Di level massa akar rumput, frasa tersebut mempertebal sentimen rasial: kebencian kelompok etnis, dalam hal ini keturunan China. Padahal sentimen rasial terhadap keturunan China merupakan warisan kolonial Belanda, yang membagi kasta sosial. Etnis China, dan juga Arab masuk warga kelas menengah. Sementara penduduk Indonesia, istilahnya bumiputra sang pemilik tanah air, justru diposisikan di kasta terendah.
Maka, panggung politik dipenuhi ekspresi kebencian terhadap lawan politik. Narasi rasis tak terkontrol lagi. Contoh paling kentara adalah narasi “asing dan aseng”, bahkan plus “asong”. Narasi itu menjadi satu frasa setarikan nafas: “asing, aseng, asong”. “Asing” mengacu semua kekuatan luar negeri yang eksploitatif, bisa mendikte dan mempengaruhi kebijakan Indonesia. Aktornya bisa lembaga non-state, semisal Bank Dunia, IMF, atau operasi intelijen negara, dan sebagainya. “Aseng” mulanya merujuk dominasi konglomerat keturunan China, tapi meluas menjadi kepentinggan negara China (RRC). “Asong” adalah pribumi yang mengasongkan Indonesia ke mana-mana. Mereka bisa siapa saja dan profesi apa saja.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Ashabiyah Modern
Sebetulnya narasi itu merupakan kritik terhadap kondisi Indonesia. Bahwa tidak ada kekuatan mana pun yang dapat menguasai Indonesia. Intinya Indonesia harus mandiri dan berdikari. Waktu kolaps tahun 1998, Indonesia dicengkeram IMF. Ingatan masih segar sebuah foto mengenaskan saat Presiden Soeharto, penguasa Orde Baru 32 tahun, menunduk menandatangani perjanjian disaksikan Michel Camdessus, Managing Director IMF, yang berdiri tegak dengan tangan bersedekap. Foto itu heboh menjadi headline di media massa.
Namun, begitu masuk siklus politik lima tahunan, narasi frasa di atas tampaknya lebih mengarah propaganda politik. Masalahnya, ketika dilepas ke massa maka interpretasinya bisa liar. Di level massa akar rumput, frasa tersebut mempertebal sentimen rasial: kebencian kelompok etnis, dalam hal ini keturunan China. Padahal sentimen rasial terhadap keturunan China merupakan warisan kolonial Belanda, yang membagi kasta sosial. Etnis China, dan juga Arab masuk warga kelas menengah. Sementara penduduk Indonesia, istilahnya bumiputra sang pemilik tanah air, justru diposisikan di kasta terendah.