Konsep Zakat Syari’ah dan Zakat Thariqah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Miftah yusufpati
Kamis, 27 Maret 2025 - 05:00 WIB
Syaikh Abdul Qadir al Jilani banyak yang mengultuskan. Ilustrasi: shopee
LANGIT7.ID--Seperti halnya salat, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani juga membagi zakat menjadi dua: zakat syari’ah dan zakat thariqah. Zakat syari’ah secara umum sama seperti yang dijelaskan dalam kitab-kitab fiqh sedangkan zakat thariqah lebih menjurus ke zakat pahala untuk orang yang miskin amal ibadahnya.
Zakat Syari’ah Dalam kitab sirr al asrâr, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani berkata: “Zakat syari’ah adalah zakat yang diberikan seseorang dari hasil usaha duniawinya bagi ashnâf yang telah ditentukan, pada waktu tertentu, setiap tahun dan dengan nishab yang telah ditentukan pula”. Yang dimaksud dengan hasil usaha duniawi adalah harta yang didapat dari pekerjaan yang halal.
Golongan atau ashnaf yang berhak menerima zakat sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surah Al-Taubah ayat 60: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang faqir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya ( mu’allaf ), untuk memerdekakan hamba sahaya (budak), untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk orang yang berada di jalan Allah ( fî sabîlillah ), dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. llah Maha mengetahui, Maha Bijaksana”.
Dan harta yang wajib dizakati adalah harta yang sudah mencapai nishab dan sudah mencapai haul. Jadi secara syari’ah pendapat beliau tidak jauh berbeda dengan pendapat ulama fiqih.
Dan zakat syari’ah ini disebut juga dengan shadaqah, seperti perkataan Syaikh Abdul Qâdir al-Jîlani: “Ia disebut shadaqah karena pahalanya (penerimaan Allah) lebih dahulu sampai kepada Allah daripada kepada orang faqir dan yang dimaksudkan”.
Baca juga: Gus Baha Anjurkan Zakat Fitrah Diberikan kepada Keluarga Dekat
Maksudnya adalah pada saat seseorang berniat menunaikan zakat dan sebelum zakat diserahkan kepada orang yang berhak, amal zakat orang tersebut sudah diterima oleh Allah dan Ia mendapat pahala dari Allah bahkan sebelum zakat tersebut disalurkan atau dibagikan.
Zakat Syari’ah Dalam kitab sirr al asrâr, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani berkata: “Zakat syari’ah adalah zakat yang diberikan seseorang dari hasil usaha duniawinya bagi ashnâf yang telah ditentukan, pada waktu tertentu, setiap tahun dan dengan nishab yang telah ditentukan pula”. Yang dimaksud dengan hasil usaha duniawi adalah harta yang didapat dari pekerjaan yang halal.
Golongan atau ashnaf yang berhak menerima zakat sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surah Al-Taubah ayat 60: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang faqir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya ( mu’allaf ), untuk memerdekakan hamba sahaya (budak), untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk orang yang berada di jalan Allah ( fî sabîlillah ), dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. llah Maha mengetahui, Maha Bijaksana”.
Dan harta yang wajib dizakati adalah harta yang sudah mencapai nishab dan sudah mencapai haul. Jadi secara syari’ah pendapat beliau tidak jauh berbeda dengan pendapat ulama fiqih.
Dan zakat syari’ah ini disebut juga dengan shadaqah, seperti perkataan Syaikh Abdul Qâdir al-Jîlani: “Ia disebut shadaqah karena pahalanya (penerimaan Allah) lebih dahulu sampai kepada Allah daripada kepada orang faqir dan yang dimaksudkan”.
Baca juga: Gus Baha Anjurkan Zakat Fitrah Diberikan kepada Keluarga Dekat
Maksudnya adalah pada saat seseorang berniat menunaikan zakat dan sebelum zakat diserahkan kepada orang yang berhak, amal zakat orang tersebut sudah diterima oleh Allah dan Ia mendapat pahala dari Allah bahkan sebelum zakat tersebut disalurkan atau dibagikan.