Kisah Asma Tanjung, Tukang Sate Naik Haji Setelah Menabung 55 Tahun
Esti setiyowati
Senin, 05 Mei 2025 - 15:46 WIB
Asma Tanjung binti Muhammad Khatib Sulaiman mengumpulkan uang untuk mewujudkan impiannya ke Tanah Suci. Foto: Kemenag.
Ketekunan Asma Tanjung binti Muhammad Khatib Sulaiman mengumpulkan uang untuk mewujudkan impiannya segera terwujud.
Nenek yang berasal dari Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara ini akan berangkat haji tahun 1446 H/2025 M.
Melansir laman Kemenag, Senin (5/5/2025), Asma Tanjung yang kesehariannya berdagang sate ini mengaku telah menabung selama 55 tahun untuk mewujudkan impiannya naik haji.
Baca juga: 3 Warga Spanyol dan 1 Maroko Naik Haji Berjalan Darat Dengan Menunggang Kuda Tiba di Arab Saudi
Asma Tanjung berjualan sate di pasar baru Panyabungan sejak 1970. Sebagai seorang muslim, Asma Tanjung punya keinginan kuat untuk menunaikan rukun Islamkelima, yaitu beribadah haji.
Sejak awal, Asma Tanjung dan suaminya berniat untuk naik haji bersama. Namun, impian itu tampak seperti hal yang mustahil bagi seorang penjual sate, terutama dengan meningkatnya kebutuhan keluarga.
Tetapi Asma Tanjung tidak pernah menyerah. Ia terus menabung dari penghasilannya yang terbatas, menyisihkan sedikit demi sedikit dari setiap tusuk sate yang terjual.
Nenek yang berasal dari Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara ini akan berangkat haji tahun 1446 H/2025 M.
Melansir laman Kemenag, Senin (5/5/2025), Asma Tanjung yang kesehariannya berdagang sate ini mengaku telah menabung selama 55 tahun untuk mewujudkan impiannya naik haji.
Baca juga: 3 Warga Spanyol dan 1 Maroko Naik Haji Berjalan Darat Dengan Menunggang Kuda Tiba di Arab Saudi
Asma Tanjung berjualan sate di pasar baru Panyabungan sejak 1970. Sebagai seorang muslim, Asma Tanjung punya keinginan kuat untuk menunaikan rukun Islamkelima, yaitu beribadah haji.
Sejak awal, Asma Tanjung dan suaminya berniat untuk naik haji bersama. Namun, impian itu tampak seperti hal yang mustahil bagi seorang penjual sate, terutama dengan meningkatnya kebutuhan keluarga.
Tetapi Asma Tanjung tidak pernah menyerah. Ia terus menabung dari penghasilannya yang terbatas, menyisihkan sedikit demi sedikit dari setiap tusuk sate yang terjual.