home edukasi & pesantren

Pembinaan Siswa di Barak Militer Dinilai sebagai Militerisasi Dunia Pendidikan

Sabtu, 10 Mei 2025 - 08:32 WIB
sumber: ist
Rencana Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengirim siswa-siswa dengan perilaku yang dianggap menyimpang, ke barak militer untuk dibina, mendapat tanggapan negatif dari MAARIF Institute for Culture and Humanity. Alasannya, pendekatan ini tidak hanya keliru secara fundamental, tetapi juga berbahaya dan berpotensi merusak sistem pendidikan secara struktural.

MAARIF Institute menyampaikan keprihatinan mendalam atas rencana Dedi Mulyadi tersebut. Kebijakan semacam ini mencerminkan kegagalan pemerintah dalam menyediakan ruang pendidikan yang aman, adil, dan inklusif bagi seluruh anak bangsa.

Adapun yang dimaksud siswa-siswa berperilaku menyimpang termasuk perilaku seperti tawuran, merokok, mabuk-mabukan, hingga orientasi seksual yang terindikasi LGBT. Model pembinaan ini telah diterapkan di Purwakarta dan direncanakan diperluas ke Bandung dan Cianjur. Ini dinilai sebagai sebuah perluasan yang perlu dipertimbangkan secara kritis, bahkan dihentikan.

Dalm pernyataan tertulis yang diterima Langit7, MAARIF Institute menyoroti tiga aspek yang patut menjadi perhatian bersama:

1. Militerisasi Pendidikan adalah Kekerasan dan Pelanggaran Perlindungan Anak

Pengiriman siswa ke barak militer merupakan bentuk kekerasan simbolik dan struktural dalam dunia pendidikan. Dalam teori Bourdieu & Passeron (1977), kekerasan simbolik terjadi ketika institusi seperti sekolah menanamkan nilai dan norma dominan secara paksa namun tak kasat mata, sehingga diterima sebagai kebenaran tanpa pertanyaan.

Pendekatan militeristik terhadap siswa yang dianggap menyimpang mencerminkan dominasi ini, mengganti proses pendidikan yang reflektif dan dialogis dengan pemaksaan disiplin yang menekankan kepatuhan tanpa nalar.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya