RI Ubah Arah Impor Energi: BBM dari AS dan Timur Tengah, Bukan Lagi Singapura
Tim langit 7
Ahad, 11 Mei 2025 - 17:28 WIB
RI Ubah Arah Impor Energi: BBM dari AS dan Timur Tengah, Bukan Lagi Singapura
LANGIT7.ID–Jakarta;Pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah strategis dengan mengalihkan sumber impor bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura ke kawasan Timur Tengah dan Amerika Serikat. Keputusan ini diambil sebagai upaya menyesuaikan arah geopolitik dan menyeimbangkan hubungan dagang, serta menjawab dinamika harga yang dinilai tidak lagi menguntungkan.
Selama ini, sekitar 54–59 persen kebutuhan BBM nasional dipasok dari Singapura. Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai kebijakan ini sudah perlu dievaluasi. Ia menyatakan bahwa harga yang ditawarkan negara tetangga tersebut justru lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain yang jaraknya lebih jauh.
“Justru harusnya lebih murah dong. Masa barang dekat dia bikin lebih mahal. Tidak hanya itu, ini ada persoalan geopolitik, geoekonomi. Kita kan harus juga membuat keseimbangan bagi yang lain,” ujar dia dalam keterangannya, dikutip Minggu (11/5/2025)
Dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto pada April 2025 lalu, Bahlil menjelaskan bahwa peningkatan impor energi dari AS juga bertujuan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan antara kedua negara. Meski data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan surplus 14,5 miliar dolar AS, catatan Amerika justru berbeda. Untuk itu, pemerintah menargetkan nilai impor energi dari AS melampaui 10 miliar dolar AS.
“Ini bukan penambahan kuota impor, tapi hanya mengalihkan sumber pembelian dari negara lain ke Amerika,” kata Bahlil.
Pengalihan sumber BBM ini tidak dilakukan secara drastis, melainkan bertahap. Pemerintah menargetkan peralihan total akan dimulai pada November 2025. Prosesnya mencakup penurunan porsi dari Singapura secara gradual sebesar 50–60 persen hingga benar-benar dihentikan sepenuhnya.
“Setelah saya cek, kok harganya sama dibandingkan dengan dari negara Middle East. Ya, kalau begitu kita mulai berpikir, kita akan mengambil minyak dari negara lain yang bukan dari negara itu,” ujar Bahlil.
Selama ini, sekitar 54–59 persen kebutuhan BBM nasional dipasok dari Singapura. Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai kebijakan ini sudah perlu dievaluasi. Ia menyatakan bahwa harga yang ditawarkan negara tetangga tersebut justru lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain yang jaraknya lebih jauh.
“Justru harusnya lebih murah dong. Masa barang dekat dia bikin lebih mahal. Tidak hanya itu, ini ada persoalan geopolitik, geoekonomi. Kita kan harus juga membuat keseimbangan bagi yang lain,” ujar dia dalam keterangannya, dikutip Minggu (11/5/2025)
Dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto pada April 2025 lalu, Bahlil menjelaskan bahwa peningkatan impor energi dari AS juga bertujuan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan antara kedua negara. Meski data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan surplus 14,5 miliar dolar AS, catatan Amerika justru berbeda. Untuk itu, pemerintah menargetkan nilai impor energi dari AS melampaui 10 miliar dolar AS.
“Ini bukan penambahan kuota impor, tapi hanya mengalihkan sumber pembelian dari negara lain ke Amerika,” kata Bahlil.
Pengalihan sumber BBM ini tidak dilakukan secara drastis, melainkan bertahap. Pemerintah menargetkan peralihan total akan dimulai pada November 2025. Prosesnya mencakup penurunan porsi dari Singapura secara gradual sebesar 50–60 persen hingga benar-benar dihentikan sepenuhnya.
“Setelah saya cek, kok harganya sama dibandingkan dengan dari negara Middle East. Ya, kalau begitu kita mulai berpikir, kita akan mengambil minyak dari negara lain yang bukan dari negara itu,” ujar Bahlil.