Maurice Bucaille: Asal Usul Perjanjian Lama dan Tradisi Lisan
Miftah yusufpati
Kamis, 15 Mei 2025 - 16:30 WIB
Perjanjian Lama pada awalnya dihimpun dari tradisi lisan. Unsplash
LANGIT7.ID-Sebelum tersusun menjadi kumpulan fasal-fasal, Perjanjian Lama merupakan tradisi rakyat yang hanya bersandar pada ingatan manusia.
"Tradisi ini tersebar melalui nyanyian, yang menjadi satu-satunya sarana untuk menyiarkan gagasan-gagasan tersebut," tulis Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya berjudul "La Bible, Le Coran et la Science" yang diterjemahkan Prof. Dr. H.M. Rasyidi menjadi "Bibel, Quran, dan Sains Modern" (Penerbit Bulan Bintang, 1979).
Edmond Jacob menulis:
"Dalam tahap permulaan, semua orang menyanyi; di Israel seperti di tempat lain, puisi lebih dahulu muncul daripada prosa. Bani Israel menyanyi baik dan banyak. Nyanyian itu memiliki berbagai ekspresi, tergantung pada peristiwa sejarah, dari semangat yang membuncah hingga keputusasaan yang dalam."
Nyanyian-nyanyian ini muncul dalam berbagai suasana, sebagaimana disebutkan oleh Jacob, dan sebagian tercatat dalam Perjanjian Lama. Contohnya adalah nyanyian makan pagi, nyanyian akhir panen, nyanyian kerja seperti Nyanyian Sumur (Bilangan 21:17), nyanyian perkawinan, nyanyian kematian, hingga nyanyian perang.
Salah satu yang terkenal adalah Nyanyian Debora (Hakim-hakim 5:1–32), yang memuji kemenangan bangsa Israel atas musuh-musuhnya dalam peperangan yang dipimpin langsung oleh Yahweh (Bilangan 10:35):
"Bangunlah Yahweh, mudah-mudahan musuh-musuh-Mu terserak-serak. Mudah-mudahan mereka yang membenci Engkau lari tunggang langgang di hadapan wajah-Mu."
"Tradisi ini tersebar melalui nyanyian, yang menjadi satu-satunya sarana untuk menyiarkan gagasan-gagasan tersebut," tulis Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya berjudul "La Bible, Le Coran et la Science" yang diterjemahkan Prof. Dr. H.M. Rasyidi menjadi "Bibel, Quran, dan Sains Modern" (Penerbit Bulan Bintang, 1979).
Edmond Jacob menulis:
"Dalam tahap permulaan, semua orang menyanyi; di Israel seperti di tempat lain, puisi lebih dahulu muncul daripada prosa. Bani Israel menyanyi baik dan banyak. Nyanyian itu memiliki berbagai ekspresi, tergantung pada peristiwa sejarah, dari semangat yang membuncah hingga keputusasaan yang dalam."
Nyanyian-nyanyian ini muncul dalam berbagai suasana, sebagaimana disebutkan oleh Jacob, dan sebagian tercatat dalam Perjanjian Lama. Contohnya adalah nyanyian makan pagi, nyanyian akhir panen, nyanyian kerja seperti Nyanyian Sumur (Bilangan 21:17), nyanyian perkawinan, nyanyian kematian, hingga nyanyian perang.
Salah satu yang terkenal adalah Nyanyian Debora (Hakim-hakim 5:1–32), yang memuji kemenangan bangsa Israel atas musuh-musuhnya dalam peperangan yang dipimpin langsung oleh Yahweh (Bilangan 10:35):
"Bangunlah Yahweh, mudah-mudahan musuh-musuh-Mu terserak-serak. Mudah-mudahan mereka yang membenci Engkau lari tunggang langgang di hadapan wajah-Mu."