Perjanjian Lama: Sejarah, Penyusunan, dan Perkembangannya Menurut Maurice Bucaille
Miftah yusufpati
Jum'at, 16 Mei 2025 - 05:45 WIB
Perjanjian Lama merupakan monumen literatur bangsa Yahudi. Ilustrasi: UnsPlash
LANGIT7.ID- Perjanjian Lama merupakan kumpulan fasal-fasal yang panjangnya tidak seragam dan berisi berbagai macam tema. Fasal-fasal ini ditulis selama lebih dari sembilan abad, dalam beberapa bahasa, dan berawal dari tradisi lisan.
"Banyak dari teks tersebut telah dikoreksi dan dilengkapi sesuai dengan kejadian atau kebutuhan tertentu yang terjadi dalam rentang waktu yang sangat berjauhan satu sama lain," tulis Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya berjudul "La Bible, le Coran et la Science" yang diterjemahkan Prof. Dr. H.M. Rasyidi menjadi "Bibek, Quran, dan Sains Modern" (Bulan Bintang, 1979).
Kemungkinan besar, lanjut Bucaille, literatur yang melimpah ini mulai muncul pada awal berdirinya monarki Yahudi, sekitar abad ke-11 SM.
Saat itu muncul kelompok pegawai kerajaan yang bertindak sebagai sekretaris, yaitu orang-orang cendekia yang pekerjaannya melampaui sekadar menulis.
Dari masa inilah muncul tulisan-tulisan awal yang kemudian tercantum dalam fasal-fasal Perjanjian Lama, seperti nyanyian-nyanyian, ucapan Nabi Ya’kub dan Nabi Dawud, Sepuluh Perintah Tuhan, serta teks-teks legislatif yang menjadi cikal bakal tradisi keagamaan sebelum tersusunnya undang-undang formal.
Sekitar abad ke-10 SM, tersusunlah teks "Yahwist" dari Pentateukh (Taurat), yang terdiri dari lima fasal pertama. Teks ini kemudian dilengkapi dengan bagian-bagian tambahan yang dikenal sebagai versi "Elohist" dan "Sakerdotal". Teks Yahwist mencakup periode dari awal penciptaan hingga wafatnya Ya’kub dan berasal dari Kerajaan Selatan (Yuda).
Pada akhir abad ke-9 dan pertengahan abad ke-8 SM, di Kerajaan Israel (bagian Utara), muncul pengaruh para nabi Elia dan Elisa, yang tulisannya juga tercantum dalam Perjanjian Lama. Teks Elohist lebih singkat dibandingkan Yahwist, hanya mencakup kisah Abraham, Ya’kub, dan Yusuf. Kitab Yusak dan Hakim-Hakim juga berasal dari periode ini.
"Banyak dari teks tersebut telah dikoreksi dan dilengkapi sesuai dengan kejadian atau kebutuhan tertentu yang terjadi dalam rentang waktu yang sangat berjauhan satu sama lain," tulis Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya berjudul "La Bible, le Coran et la Science" yang diterjemahkan Prof. Dr. H.M. Rasyidi menjadi "Bibek, Quran, dan Sains Modern" (Bulan Bintang, 1979).
Kemungkinan besar, lanjut Bucaille, literatur yang melimpah ini mulai muncul pada awal berdirinya monarki Yahudi, sekitar abad ke-11 SM.
Saat itu muncul kelompok pegawai kerajaan yang bertindak sebagai sekretaris, yaitu orang-orang cendekia yang pekerjaannya melampaui sekadar menulis.
Dari masa inilah muncul tulisan-tulisan awal yang kemudian tercantum dalam fasal-fasal Perjanjian Lama, seperti nyanyian-nyanyian, ucapan Nabi Ya’kub dan Nabi Dawud, Sepuluh Perintah Tuhan, serta teks-teks legislatif yang menjadi cikal bakal tradisi keagamaan sebelum tersusunnya undang-undang formal.
Sekitar abad ke-10 SM, tersusunlah teks "Yahwist" dari Pentateukh (Taurat), yang terdiri dari lima fasal pertama. Teks ini kemudian dilengkapi dengan bagian-bagian tambahan yang dikenal sebagai versi "Elohist" dan "Sakerdotal". Teks Yahwist mencakup periode dari awal penciptaan hingga wafatnya Ya’kub dan berasal dari Kerajaan Selatan (Yuda).
Pada akhir abad ke-9 dan pertengahan abad ke-8 SM, di Kerajaan Israel (bagian Utara), muncul pengaruh para nabi Elia dan Elisa, yang tulisannya juga tercantum dalam Perjanjian Lama. Teks Elohist lebih singkat dibandingkan Yahwist, hanya mencakup kisah Abraham, Ya’kub, dan Yusuf. Kitab Yusak dan Hakim-Hakim juga berasal dari periode ini.