home global news

Stunting Masih Jadi Ancaman, Dokter Anak Tegaskan Protein Hewani Harus 14 Persen di Menu Balita

Jum'at, 16 Mei 2025 - 16:15 WIB
Dokter spesialis tumbuh kembang anak, Dr. dr. T.B. Rachmat Sentika, SpA, MARS. Dok: Langit7.id
LANGIT7.ID-Jakarta;Masalah stunting masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Dokter spesialis tumbuh kembang anak, Dr. dr. T.B. Rachmat Sentika, SpA, MARS menegaskan pentingnya asupan protein hewani minimal 14 persen dalam menu balita sebagai langkah penting untuk pencegahan stunting sejak usia dini.

Ia menyebut bahwa konsumsi protein hewani anak-anak di Indonesia masih di bawah 10 persen, jauh dari angka ideal 14 persen. "Harusnya ada daging, ikan, atau telur setiap hari. Ini perlu jadi perhatian semua pihak," tegasnyadi sela acara Anemia Zat Besi Bahayakan Masa Depan Anak Indonesia di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jumat (16/5/2025).

Baca juga: Cegah Anemia Balita, PP Aisyiyah Edukasi Ibu Lewat Demo Masak Pangan Lokal

Rachmat juga menekankan perlunya merevitalisasi Posyandu agar kembali aktif menjalankan fungsi pemberian makanan tambahan (PMT), baik untuk penyuluhan maupun pemulihan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1928 Tahun 2023, balita yang berat badannya tidak naik dua kali berturut-turut harus segera ditangani.

"Jika berat badan berada di bawah garis merah atau minus tiga SD, atau jika anak masuk kategori red flag seperti malnutrisi berat atau penyakit penyerta seperti TBC, maka harus dirujuk ke Puskesmas dan diperiksa oleh dokter, bukan tenaga kesehatan umum," ungkapnya.

Dalam penanganan gizi buruk, Puskesmas wajib memberikan formula gizi khusus, yakni Formula 75 selama tiga hari dan Formula 100 selama sebelas hari. Jika berat badan anak meningkat dalam dua minggu, program dilanjutkan dengan pemberian Pangan Diet Khusus (PDK) selama 90 hari. Bila tidak ada perubahan, anak dirujuk ke rumah sakit untuk diberikan Pangan Khusus Medis Khusus (PKMK).

Ia juga mengingatkan pentingnya deteksi dan penanganan stunting lintas level—mulai dari deteksi dini, intervensi primer, hingga rujukan medis. “Kolaborasi profesional sangat penting. Dokter anak wajib membimbing dokter umum, dan Puskesmas harus siap dengan semua bahan dan formula gizinya,” ujarnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya