LANGIT7.ID-Jakarta; Masalah stunting masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Dokter spesialis tumbuh kembang anak, Dr. dr. T.B. Rachmat Sentika, SpA, MARS menegaskan pentingnya asupan protein hewani minimal 14 persen dalam menu balita sebagai langkah penting untuk pencegahan stunting sejak usia dini.
Ia menyebut bahwa konsumsi protein hewani anak-anak di Indonesia masih di bawah 10 persen, jauh dari angka ideal 14 persen. "Harusnya ada daging, ikan, atau telur setiap hari. Ini perlu jadi perhatian semua pihak," tegasnya di sela acara Anemia Zat Besi Bahayakan Masa Depan Anak Indonesia di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jumat (16/5/2025).
Baca juga: Cegah Anemia Balita, PP Aisyiyah Edukasi Ibu Lewat Demo Masak Pangan LokalRachmat juga menekankan perlunya merevitalisasi Posyandu agar kembali aktif menjalankan fungsi pemberian makanan tambahan (PMT), baik untuk penyuluhan maupun pemulihan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1928 Tahun 2023, balita yang berat badannya tidak naik dua kali berturut-turut harus segera ditangani.
"Jika berat badan berada di bawah garis merah atau minus tiga SD, atau jika anak masuk kategori red flag seperti malnutrisi berat atau penyakit penyerta seperti TBC, maka harus dirujuk ke Puskesmas dan diperiksa oleh dokter, bukan tenaga kesehatan umum," ungkapnya.
Dalam penanganan gizi buruk, Puskesmas wajib memberikan formula gizi khusus, yakni Formula 75 selama tiga hari dan Formula 100 selama sebelas hari. Jika berat badan anak meningkat dalam dua minggu, program dilanjutkan dengan pemberian Pangan Diet Khusus (PDK) selama 90 hari. Bila tidak ada perubahan, anak dirujuk ke rumah sakit untuk diberikan Pangan Khusus Medis Khusus (PKMK).
Ia juga mengingatkan pentingnya deteksi dan penanganan stunting lintas level—mulai dari deteksi dini, intervensi primer, hingga rujukan medis. “Kolaborasi profesional sangat penting. Dokter anak wajib membimbing dokter umum, dan Puskesmas harus siap dengan semua bahan dan formula gizinya,” ujarnya.
Kelompok usia 6 bulan hingga 2 tahun menjadi fokus utama karena rentan mengalami gangguan tumbuh kembang. Rachmat menyarankan agar Kementerian Kesehatan memperhatikan pemenuhan zat besi dalam bentuk tetes seperti ferrofumarat bagi bayi, bukan dalam bentuk tablet.
Soal fortifikasi makanan, ia menyebut tepung terigu bisa diperkaya dengan zat besi 4–6 mg/kg, namun tetap harus mempertimbangkan kualitas tampilan agar tetap diterima pasar. “Meskipun mahal, negara harus tetap menyediakan. Ini soal masa depan anak-anak, bukan soal untung rugi,” jelasnya.
Sebagai upaya monitoring tumbuh kembang, ia juga mendorong optimalisasi pemanfaatan Kuesioner Pra-Skrining Tumbuh Kembang (KPSP) yang mencakup aspek motorik, sensorik, dan sosial emosional. Ia menekankan bahwa semua tenaga medis, termasuk kader dan petugas gizi, perlu dibekali kemampuan membaca grafik pertumbuhan WHO untuk memastikan penanganan tepat sasaran.
(lam)