Ini Mengapa Ibnu Taimiyyah Menilai Konsep Kasb Imam al-Asy‘ari Tidak Masuk Akal
Miftah yusufpati
Rabu, 28 Mei 2025 - 04:15 WIB
Menurut Ibn Taimiyyah, kasb al-Asyari justru membawa para pengikutnya ke dalam faham jabariyah murni. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam pandangan Imam Al-Asy’ari, semua perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan. Tidak ada pelaku (agent) bagi kasb selain Allah. Dengan kata lain, yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, menurut Al-Asy’ari, sebenarnya adalah Tuhan sendiri.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Zainun Kamal, dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" bab "Kekuatan dan Kelemahan Paham Asyari sebagai Doktrin Akidah" menjelaskan perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan, dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud.
Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. Tidak satu pun dari ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki sesuatu, ia pasti ada, dan jika Tuhan tidak menghendakinya, niscaya ia tiada.
Baca juga: Kisah Imam Al-Asy‘ari Keluar dari Muktazilah dan Menulis 2 Buku
Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki." (QS. al-Insan [76]: 30)
Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu kecuali jika Allah menghendaki manusia supaya menghendaki sesuatu itu. Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan, dan kehendak yang ada dalam diri manusia sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan.
Dalam teori kasb, kata Zainun Kamal, untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia, terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Zainun Kamal, dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" bab "Kekuatan dan Kelemahan Paham Asyari sebagai Doktrin Akidah" menjelaskan perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan, dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud.
Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. Tidak satu pun dari ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki sesuatu, ia pasti ada, dan jika Tuhan tidak menghendakinya, niscaya ia tiada.
Baca juga: Kisah Imam Al-Asy‘ari Keluar dari Muktazilah dan Menulis 2 Buku
Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki." (QS. al-Insan [76]: 30)
Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu kecuali jika Allah menghendaki manusia supaya menghendaki sesuatu itu. Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan, dan kehendak yang ada dalam diri manusia sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan.
Dalam teori kasb, kata Zainun Kamal, untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia, terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia.