Emas di Dalam Tanah, Surga di Dalam Jiwa: Pelajaran dari Dua Orang Saleh
Miftah yusufpati
Jum'at, 13 Juni 2025 - 17:00 WIB
Inilah kisah yang bukan hanya layak dibaca, tapi juga ditanamkan dalam hati. Ilustrasi: chatgpt.com
LANGIT7.ID-Di sebuah negeri yang jauh sebelum dunia mengenal bank dan notaris, hiduplah dua pria saleh. Suatu hari, salah satunya menjual sebidang tanah kepada yang lain. Tidak lama setelahnya, sang pembeli menggali tanah itu dan menemukan sebuah guci tua yang ternyata berisi emas.
Terkejut dan takut akan mengambil yang bukan haknya, ia kembali kepada penjualnya dan berkata, “Ambillah emasmu. Aku hanya membeli tanah, bukan isinya.”
Namun sang penjual pun tidak kalah jujurnya. Ia menolak, “Yang kujual adalah tanah beserta seluruh isinya. Maka emas itu hakmu.”
Maka terjadilah sesuatu yang langka dalam sejarah umat manusia: dua orang yang sama-sama enggan mengambil emas karena takut merebut hak yang bukan miliknya.
Tak mampu memutuskan sendiri, keduanya mendatangi seorang bijak yang dikenal memahami syariat. Kepadanya, mereka meminta putusan. Sang bijak tak segera bicara hukum. Ia bertanya, “Apakah kalian memiliki anak?”
“Aku memiliki seorang anak laki-laki,” kata yang satu.
“Dan aku seorang anak perempuan,” sahut yang lain.
Terkejut dan takut akan mengambil yang bukan haknya, ia kembali kepada penjualnya dan berkata, “Ambillah emasmu. Aku hanya membeli tanah, bukan isinya.”
Namun sang penjual pun tidak kalah jujurnya. Ia menolak, “Yang kujual adalah tanah beserta seluruh isinya. Maka emas itu hakmu.”
Maka terjadilah sesuatu yang langka dalam sejarah umat manusia: dua orang yang sama-sama enggan mengambil emas karena takut merebut hak yang bukan miliknya.
Tak mampu memutuskan sendiri, keduanya mendatangi seorang bijak yang dikenal memahami syariat. Kepadanya, mereka meminta putusan. Sang bijak tak segera bicara hukum. Ia bertanya, “Apakah kalian memiliki anak?”
“Aku memiliki seorang anak laki-laki,” kata yang satu.
“Dan aku seorang anak perempuan,” sahut yang lain.