home masjid

Saat Ulama Dikalahkan Artis: Agama Hanya Jadi Pelengkap

Sabtu, 14 Juni 2025 - 16:24 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: The New Arab
LANGIT7.ID-Suatu hari pada musim panas 1993, seorang pemain bola Mesir ditawar hingga 750 ribu junaih. Namanya menjadi perbincangan nasional. Surat kabar menurunkan laporan khusus. Radio dan televisi ikut ramai mengulas "kehebatan" dan "kejayaan"-nya. Di sisi lain kota, seorang ilmuwan Muslim tutup usia. Tak ada siaran langsung. Tak ada headline. Bahkan, tak ada ucapan belasungkawa dari negara.

Beginilah umat kita sekarang. Timbangan prioritas telah jungkir balik.

Yang paling didengar bukan lagi mereka yang berilmu, tapi mereka yang bersuara keras. Yang paling dicari bukan yang bijak bestari, tapi yang bisa membuat heboh. Saat seorang aktor meninggal dunia, negeri ini seolah berduka nasional. Tapi wafatnya seorang profesor atau ulama? Berita duka itu tenggelam dalam riuh rendah infotainment.

Inilah gejala yang dikupas dengan getir oleh Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya berjudul "Fiqh Prioritas: Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah" Jakarta: Robbani Press, 1996).

Al-Qardhawi bukan sekadar pengingat keagamaan, tetapi juga pukulan telak terhadap cara umat menyusun daftar yang penting dan yang bisa ditunda. Ia menyebutnya sebagai kekacauan skala prioritas, dan menyodorkannya tanpa basa-basi.

Baca juga: Hukum Lukisan dan Ukiran Menurut Syaikh Al-Qardhawi

Jiwa Yang Dilupakan
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya