LANGIT7.ID-Suatu hari pada musim panas 1993, seorang pemain bola Mesir ditawar hingga 750 ribu junaih. Namanya menjadi perbincangan nasional. Surat kabar menurunkan laporan khusus. Radio dan televisi ikut ramai mengulas "kehebatan" dan "kejayaan"-nya. Di sisi lain kota, seorang ilmuwan Muslim tutup usia. Tak ada siaran langsung. Tak ada headline. Bahkan, tak ada ucapan belasungkawa dari negara.
Beginilah umat kita sekarang. Timbangan prioritas telah jungkir balik.
Yang paling didengar bukan lagi mereka yang berilmu, tapi mereka yang bersuara keras. Yang paling dicari bukan yang bijak bestari, tapi yang bisa membuat heboh. Saat seorang aktor meninggal dunia, negeri ini seolah berduka nasional. Tapi wafatnya seorang profesor atau ulama? Berita duka itu tenggelam dalam riuh rendah infotainment.
Inilah gejala yang dikupas dengan getir oleh
Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya berjudul "Fiqh Prioritas: Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah" Jakarta: Robbani Press, 1996).
Al-Qardhawi bukan sekadar pengingat keagamaan, tetapi juga pukulan telak terhadap cara umat menyusun daftar yang penting dan yang bisa ditunda. Ia menyebutnya sebagai kekacauan skala prioritas, dan menyodorkannya tanpa basa-basi.
Baca juga: Hukum Lukisan dan Ukiran Menurut Syaikh Al-Qardhawi Jiwa Yang DilupakanAl-Qardhawi mengutip syair Abu al-Fath al-Busti: "Berhentilah menjadi budak jasad. Bukankah engkau manusia karena jiwamu, bukan karena badanmu?"
Sayangnya, syair ini hanya menjadi hafalan murid madrasah. Di luar tembok sekolah, kenyataan berkata lain. Manusia sekarang diukur dari otot dan kulitnya, bukan isi kepalanya. Pemuda dipuji karena kuat berlari, bukan karena tajam berpikir. Pendidikan jasmani disubsidi, sedangkan pendidikan akhlak nyaris tidak punya ruang.
Olahraga, seni, dan hiburan menjadi primadona anggaran. Negara rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membiayai pesta akbar, pertandingan antar-klub, hingga pengamanan stadion. Di sisi lain, sekolah-sekolah ambruk, dosen digaji seadanya, dan laboratorium sepi eksperimen. Lalu, jika ada permintaan bantuan untuk riset ilmiah atau pengembangan SDM? Jawabannya: "Anggaran tidak ada."
Penghematan yang ganjil. Pemborosan yang dibungkus retorika pembangunan.
Baca juga: Arak Dipakai untuk Berobat, Bolehkah? Begini Penjelasan Syaikh AL-Qardhawi Agama Jadi PenontonDalam narasi modern kita, agama hanya jadi pelengkap. Ia hanya muncul di acara pernikahan, peresmian, atau pemakaman. Tapi dalam ranah kehidupan sehari-hari, politik, ekonomi, pendidikan, agama dianggap tidak punya peran. Ulama hanya dipanggil ketika dibutuhkan legalitas moral. Tidak lebih.
Kondisi ini membuat Qardhawi menyindir: “Bintang masyarakat hari ini bukan ulama atau pemikir, tetapi aktor dan aktris, pemain bola dan selebritas.” Masyarakat lupa bahwa kemajuan sejati lahir dari pembinaan jiwa dan pemikiran, bukan dari popularitas semu yang diulang-ulang oleh layar kaca.
Pendidikan agama, kesehatan masyarakat, layanan sosial, semua menjadi anak tiri dalam APBN. Tapi biaya keamanan untuk konser atau pertandingan sepak bola bisa disahkan tanpa perdebatan. Negara seolah lupa bahwa membangun stadion tanpa membangun kesadaran adalah proyek yang kosong.
Fiqh yang Salah TempatFiqh prioritas, menurut Qardhawi, adalah ilmu menyusun hal-hal sesuai kadar urgensinya. Mana yang harus didahulukan, mana yang bisa ditunda. Mana yang pokok, mana yang pelengkap. Dalam Islam, keadilan sosial dan pembangunan jiwa adalah prioritas. Tapi di banyak negeri Muslim, yang utama justru disisihkan.
Baca juga: Syaikh Al-Qardhawi Kritisi Pengikut Manhaj Salaf yang Justru Menyalahi ijtihad Mereka Karena itu, kebutuhan kita bukan lagi soal banyaknya masjid atau kampus, tapi arah dari kebijakan dan perhatian umat. Apakah kita masih menempatkan ilmu di atas hiburan? Apakah kita masih menghargai ulama lebih tinggi dari selebritas?
Qardhawi tak sedang meminta kita membenci seni atau melarang olahraga. Tapi ia mengajak umat untuk kembali waras: menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sebab, kata Ibn al-Muqaffa’, “Setiap pemborosan pasti merampas hak dari yang semestinya.”
Akhir kata, ketika masyarakat lebih hafal nama-nama pemain bola ketimbang nama-nama Imam Mazhab, dan lebih sibuk mengikuti drama rumah tangga selebritas daripada memahami problem kemiskinan dan pendidikan, itu bukan sekadar anomali budaya. Itu adalah gejala kegagalan prioritas. Dan dari situ, kehancuran bisa dimulai.
(mif)